Kriteria Ponsel Idamanku

Inilah ponsel idaman saya:
  1. Warnanya dominan hitam. Menurut saya warna hitam lebih mencerminkan ketegasan, lugas, elegan, dan eksklusif.
  2. Bentuknya candy bar (yang tidak terlalu tebal dan terlalu tipis). Lebih praktis. Tidak perlu menggeser (seperti ponsel bentuk sliding) dan membuka tutup (seperti ponsel bentuk clam shell).
  3. Tersedia bluetooth, infrared, dan kabel data untuk memudahkan pertukaran data dan informasi.
  4. Ada radio FM. Dan bisa menyimpan channel radio. Radio adalah salah satu sumber informasi (dan hiburan) saya.
  5. Ada media player. Untuk memutar MP3, MP4, dan file-file multimedia lainnya. Dan bisa merekam.
  6. Ada camera. Yang bisa memotret dengan bagus. Setidaknya 1,3MP. Untuk mengabadikan momen-momen menarik kapan saja dan di mana saja diperlukan.
  7. Ada kartu memory tambahan. Untuk menyimpan berbagai file pribadi. Sehingga file-file itu bisa mobile.
  8. Bisa SMS, MMS, dan internet.
  9. Ada agenda dan reminder-nya.
  10. Ada document reader utk membaca file pdf dan MS Office.
  11. Bisa menampung minimal 500 nama di phonebook-nya, di mana 1 nama bisa memiliki lebih dari satu nomor kontak.
  12. Bisa menolak nomor-nomor tertentu.
  13. Ponsel itu haruslah merek buatan Asia (Indonesia, Jepang, Korea, China, dll.)

Semoga Allah SWT memberikan saya ponsel idaman tersebut. Amiiin.

Tomy Saleh. Kalibata. 31 Juli 2008. 09:58WIB

Dua Sumber Bencana Kehidupan

Setiap hari kita disuguhkan berbagai macam informasi atau berita mengenai kekerasan: suami membunuh istri, istri menganiaya anak, anak memukuli orang tua, tawuran antar kampung, konflik berdarah dalam pilkadal, anggota gangster melakukan kebrutalan terhadap warga, pelajar putri SMP melakukan aborsi, penipuan, korupsi, ancaman bom, selebriti selingkuh, dan lain-lain. Semuanya itu menjadi sampah pemikiran yang terus menerus mengisi pikiran kita setiap pagi, siang, sore, dan malam. Kita bangun tidur dengan jiwa yang gelisah dan tidur dengan hati yang letih. Begitu setiap hari. Kejahatan melakukan regenerasi dan kaderisasi setiap detik. Negeri ini dipenuhi oleh aroma hati yang membusuk dan pikiran kriminil. Kebathilan mendominasi atmosfir opini tanah air tercinta.

Apabila kemudian terjadi segala macam bencana, maka rasanya kehadiran "tamu" tersebut adalah wajar belaka. Allah SWT berfirman dalam surat Ar Rum ayat 41, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagaian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Jika ditilik lebih mendalam lagi, pada hakikatnya penyebab semua malapetaka dunia ini (setidaknya) ada dua, yaitu Kebodohan dan Kesombongan. Semua ragam kejahatan, kenistaan, keburukan, dan malapetaka bersumber dari dua hal tersebut.

Sumber pertama adalah kebodohan. Kebodohan yang dimaksud adalah keterasingan dari wawasan wahyu suci. Hati dan fikirannya jauh dari pemahaman terhadap petunjuk Allah SWT dan RasulNya. Sehingga semua tindakan, ucapan, tulisan, kebijakan, dan hasil pemikirannya tidak memiliki dasar referensi dan bingkai Islami yang rahmatan lil 'alamin. Segala yang berasal dari dirinya tidak dimaksudkan dan tidak dalam kerangka pengabdian kepada Allah SWT. Lebih semata-mata karena kemauan hawa nafsunya.

Ketiadaan wawasan ini akan mengakibatkan manusia tidak lagi mengindahkan kaidah halal - haram dan juga kaidah manfaat-mafsadat dalam berfikir dan bertindak. Apapun yang diinginkannya dan yang muncul di fikirannya akan (bahkan harus) diwujudkan. Seringkali tidak memperdulikan ekses yang (mungkin) timbul dari hal tersebut (baik positif maupun negatif). Maka kita bisa saksikan parade pertunjukan malapetaka itu: korupsi yang dianggap halal dan lumrah, kebijakan pemerintah yang kontra rakyat dan lingkungan hidup, pembunuhan, perselingkuhan, skandal, pornografi dan pornoaksi di media cetak dan elektronik, kampanye dan sosialisasi budaya permissive, tayangan sinetron yang amoral, kerusuhan sara, pertikaian berdarah dalam ajang pilkadal, dan sebagainya. Rakyat diajak untuk menjadi bodoh. Kurikulum pendidikanpun lebih cenderung ke arah menghasilkan robot-robot untuk memenuhi kebutuhan industri kapitalis. Itupun masih ditambah dengan biaya pendidikan yang sangat mahal. Bayangkan, bahkan untuk menjadi robot miskin nurani pun harus mengeluarkan biaya tinggi. Sungguh dahsyat tayangan peradaban bar-bar ini.

Akibat kebodohan ini yang terus menerus diperdengarkan dan dipertontonkan, maka perlahan tapi pasti akan terbentuk suatu iklim kebodohan massal. Tercipta sebuah masyarakat yang bodoh. Kalaupun ada pihak-pihak yang sadar akan hal ini, sebahagian besar mereka hanya diam saja dan bersikap apatis. Hanya sedikit dari mereka yang berjuang sepenuh hati untuk memerangi kebudayaan bodoh ini.

Bila iklim kebodohan ini dibiarkan terus, maka ummat semakin asing dari firman Allah SWT dan sunnah RasulNya. Maka adzab Allah SWT tiba dan menimpa siapapun juga. Allah SWT berfirman dalam surat Al Anfaal ayat 25, "Takutlah kalian kepada fitnah/bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian". Kebodohan berujung pada bencana.

Sumber kedua adalah kesombongan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Iblis adalah pionir sifat sombong ini. Dia merasa lebih mulia dari Adam 'alaihissalaam, karena dia diciptakan dari api, sedangkan Adam 'alaihissalaam diciptakan dari tanah. Karena perasaan itulah Iblis menolak perintah Allah SWT untuk sujud kepada Adam 'alaihissalaam. Menolak perintah Allah SWT adalah sebuah bentuk penolakan terhadap kebenaran, karena Allah SWT adalah Maha Benar dan sumber kebenaran mutlak satu-satunya. Iblis merasa lebih hebat dan lebih mulia, padahal tidak ada yang lebih hebat dan lebih mulia kecuali Allah SWT.

Manusia yang sombong adalah manusia yang meneladani Iblis. Manusia sombong merasa dirinya lebih hebat. Merasa memiliki kemampuan diri sendiri untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Senantiasa mengklaim setiap pencapaian prestasinya, keberhasilannya, kekayaannya, dan kekuasaannya adalah berasal dari kerja keras otak dan ototnya semata. Mata hatinya tertutup oleh rasa takjub atas apa yang telah dihasilkan oleh dirinya sendiri berupa pikiran dan perbuatan, sehingga lupa bahwa Allah SWT-lah yang mendatangkan segala kemanisan, kesuksesan, kecemerlangan, kekayaan, dan juga kekuasaannya.

Seperti Qarun yang kaya raya tapi lupa kepada Allah SWT dengan mengklaim bahwa kekayaannya itu bersumber dari hasil kecerdasan dan kerja kerasnya semata. Tidak ada rasa syukur. Pada akhirnya Allah SWT menurunkan adzab kepada Qarun: bumi menelan Qarun beserta seluruh harta benda kebanggaannya itu.

Manusia memang sudah Allah berikan akal fikiran dan sudah pula dihamparkan alam semesta untuk diolah. Tapi pengolahan ini semata-mata sebagai bentuk pengabdian. Allah SWT berfirman dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku". Pengolahan alam semesta dengan bekal karunia Allah SWT pada diri manusia adalah sebuah batu loncatan untuk mencapai ridho dan rahmat Allah SWT. Bukan untuk fokus ke pengolahan itu sendiri.

Namun manusia sombong memiliki karakteristik pandangannya sendiri. Karunia Allah SWT yang hebat itu justru dipergunakan untuk mengolah alam bagi kejayaan pribadi dan diakui sebagai hasil upaya pribadi. Bukan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Karena melihat kesuksesan demi kesuksesan yang diraih dengan optimalisasi potensi dirinya (yang merupakan karunia Allah SWT) dalam mengolah alam, maka hawa nafsu semakin berperan dalam mengendalikan diri manusia sombong. Tidak ada kata puas dalam meraih segala macam bentuk kenikmatan yang ditawarkan dunia. Benarlah sabda Rasulullah SAW, "Jika manusia diberi emas setinggi gunung uhud, maka dia akan menginginkan lebih lagi".

Maka terjadilah persaingan dalam merebut sumber-sumber kenikmatan duniawi. Saling berlomba (munafasah, bukan musabaqoh) dalam menguasai harta dan tahta. Segala macam cara ditempuh untuk meraihnya. Maka kita saksikan kembali parade pertunjukan malapetaka: semburan lumpur lapindo, tanah longsor akibat pembalakan liar, banjir, kebakaran hutan, kerusuhan sosial berdarah akibat pertarungan perebutan kekuasaan secara tidak fair, kongkalikong pengusaha dan penguasa yang merugikan rakyat, peperangan, dan sebagainya.

Kemanusiaan dinomorduakan. Hawa nafsu diutamakan. Syariat Allah SWT diinjak-injak dan dihinakan, sementara aturan carut-marut yang menindas harkat dan martabat manusia dijunjung tinggi. Sejumlah alasan dipergunakan untuk pembenaran aksi-aksi kesombongan ini: demokrasi, toleransi, liberalisme, pluralisme, dan hak asasi manusia. Kesombongan berujung pada bencana.

Semua upaya untuk memerangi segala macam petaka itu harus dimulai dari pemberantasan akar masalahnya. Berantas kebodohan dan kesombongan. Secara sederhana dan garis besar, obat dari kebodohan adalah belajar, sedangkan obat kesombongan adalah dzikrul maut. Hal ini disadari masih memerlukan penjabaran yang lebih detail dan teliti. Tentunya setiap perjuangan memerlukan tahapannya sendiri yang harus dirumuskan dengan seksama dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam suasana ukhuwah Islamiyah. Setidaknya kita bisa memulainya dari diri kita sendiri.

Wallahu a'lam bisshowab.

Tomy Saleh. Kalibata. 29 Juli 2008. 15:29WIB

Tiga Hal Yang Dilihat Ummat Terhadap Ulama

Ulama adalah pewaris Nabi. Demikian bunyi salah satu hadits yang terkenal dan sudah sama-sama kita hafal. Menurut Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, Guru besar UIN Jakarta, "...ulama adalah orang yang memiliki ilmu yang mumpuni sehingga ilmu tersebut membawa dirinya memiliki sifat khasyyah atau rasa takut hanya kepada Allah saja..." (dikutip dari: http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=429). Allah SWT berfirman, "innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama’u......Sungguh, yang takut kepada Allah, di antara hamba-hambaNya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir (35): 28). Ulama adalah pewaris Nabi dalam hal iman, ilmu, dan amal. Nabi melakukan tabligh dan ta'lim kepada ummat. Begitu pula Ulama. Nabi adalah pembela dan pengayom ummat (murobbi). Begitu pula Ulama. Nabi menyampaikan kebenaran dan memerangi kemunkaran. Begitu pula ulama. Dengan wawasan keilmuan dan hikmah yang dimilikinya, Ulama adalah sosok manusia yang (sebenarnya) istimewa, di sisi Allah SWT dan RasulNya dan juga di sisi manusia.

Ummat (sadar atau tidak sadar) membutuhkan Ulama untuk saling membantu dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia dan syari'atNya dalam naungan rahmat dan ridho Allah SWT. Ulama akan membantu mengarahkan, menasehati, membimbing, dan memberikan pengetahuan serta keteladanan kepada manusia untuk hal tersbut di atas. Namun, ummat sebenarnya hanya melihat tiga hal dari Ulama, yaitu keluasan ilmunya, akhlaqnya yang solid, dan keberanian dan ketegasannya.

1. Keluasan Ilmu
Ulama, sesuai definisi bahasanya adalah orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang bodoh tidak disebut sebagai Ulama. Ilmu yang dimiliki Ulama adalah ilmu untuk menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah SWT dan RasulNya. Ulama adalah sosok manusia yang merasa dirinya bodoh sepanjang waktu yang oleh karenanya tidak pernah berhenti untuk terus belajar. Belajar ilmu-ilmu tekstual dan kontekstual. Ulama berhenti belajar ketika ia wafat. Oleh karena itulah Ulama memiliki ilmu di atas rata-rata manusia pada umumnya. Ulama adalah pembelajar sejati. Dengan kandungan ilmunya, maka pantaslah ia menjadi rujukan bagi manusia dalam menjawab berbagai pertanyaan dalam hidupnya.

Ulama juga manusia yang open minded. Bersedia menerima masukan (ilmu, hikmah, dan nasehat) dari siapa saja. Walaupun belakangan ada pula terjadi distorsi terhadap makna kata Ulama. Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail menulis, "...Ada seorang yang baru bisa berceramah dan belum mendalam ilmu keislamannya sudah disebut ulama. bahkan di sebuah kampung terpencil, ada tokoh masyarakat yang biasa memimpin doa dalam berbagai acara keagamaan sudah disebut ulama dan diangkat sebagai anggota majlis ulama kecamatan padahal bacaan Al Qurannya masih blepotan..." (dikutip dari : http://www.kebunhikmah.com/article-detail.php?artid=429). "Ulama" macam ini yang perlu kita tinggalkan, tak peduli semenarik apapun gaya retorikanya, sebanyak apapun massa pengagumnya, dan sesering apapun dia tampil. Di salah satu televisi swasta bahkan ditayangkan show seorang dukun sesat (yang sangat kentara kemusyrikannya) yang diberi gelar "Ustadz". Dia memimpin acara yang diklaimnya sebagai dzikir dan sholawat yang dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan orang, mulai dari orang-orang miskin, orang kaya, selebriti, tokoh masyarakat, dan pejabat. Si dukun sesat itu mengklaim bisa memindahkan penyakit yang diderita manusia ke medium telur atau hewan. Sekali lagi, kita harus menghindari "ulama" macam ini.

2. Akhlaq Yang Solid
Ilmu yang luas akan membuat ulama semakin tawadhu'. Seperti prinsip padi, makin berisi makin merunduk. Ulama akan rendah hati, bukan rendah diri. Ilmunya akan menumbuhkan akhlaq yang solid pada dirinya. Akhlaq yang solid adalah suatu sikap yang telah begitu menyatu dengan kepribadiannya. Akhlaq itu adalah dirinya dan dirinya adalah akhlaq itu. Solid. Akhlaqnya bukan sekedar topeng dan pemanis ketika tampil di podium atau di tv. Ulama memiliki sopan santun yang sangat bagus. Ulama menghormati sesama manusia. Ulama menyayangi dan menyantuni yang lemah. Ulama juga menjaga lingkungan hidup, karena hal itu bagian dari sifat kasih sayangnya.

Akhlaqnya kepada Allah, kepada RasulNya, kepada sesama manusia, dan kepada alam di sekitarnya, begitu luar biasa. Ummat membutuhkan Ulama yang seperti itu. Jangan sampai kita tertipu oleh Ulama yang berakhlaq abal-abal. Halusnya tutur bahasa, tetesan airmatanya, fasih ucapannya, yang ternyata hanya keperluan show di hadapan manusia. Akhlaq itu bukan bagian dari dirinya. Dan jangan pula kita manut pada Ulama yang gemar menebar fitnah, gossip, rumor, dan tuduhan tanpa bukti. Ucapan dan perilakunya kasar. Begitu pula Ulama yang sombong dan merasa dia sudah sangat pandai dan berilmu dibandingkan seluruh manusia. Bahkan orang seperti itu sangat patut kita pertanyakan keulamaannya.

3. Keberanian dan Ketegasan
Salah satu tugas Ulama (yang sebenarnya juga merupakan tugas kita semua) adalah menyampaikan kebenaran dan memerangi kemunkaran. Nabi bersabda, "Sampaikanlah kebenaran walapun pahit rasanya". Berbekal ilmunya, Ulama memiliki landasan ilmiah untuk memperkuat amaliyah dalam ammar ma'ruf nahi munkar. Oleh karenanya Ulama memiliki keberanian dan ketegasan. Ulama berani menyampaikan bahwa yang benar adalah benar dan yang bathil adalah bathil kepada seluruh manusia, mulai dari wong cilik, orang kaya, pejabat, penjahat, dan lain-lain sesuai dengan bahasa mereka masing-masing. Nabi bersabda, "Jihad yang paling afdhol adalah menyampaikan kebenaran di depan penguasa". Dan kita telah menyaksikan deretan Ulama yang telah melakukan jihad yang afdhol tersebut. Dengan gagah berani mereka menyuarakan kebenaran kepada penguasa yang zalim. Ulama menyampaikan aspirasi ummat yang tertindas kepada penguasa penindas. Ulama bersuara lantang membela aqidah kepada penguasa yang membiarkan kesesatan tumbuh subur.

Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas'ud, Sa'id bin Jubair, Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah, Ibnu Taimiyyah, Hasan Al Banna, Sayyid Quthub, Muhammad Natsir, dan lain-lain, adalah sebahagian kecil contoh nama para Ulama pembela kebenaran. Ummat amat membutuhkan Ulama yang berani dan tegas, tanpa harus meninggalkan rasa penghormatan terhadap sesama. Ummat tidak membutuhkan Ulama penakut. Ummat tidak butuh Ulama yang berselingkuh dengan kekuasaan zalim. Ummat tidak memerlukan Ulama tukang stempel yang senantiasa memberikan dalil penguat bagi kebijakan penguasa yang menindas rakyat. Ummat harus menjauhi Ulama yang lembek terhadap sogokan duniawi untuk meredam kerasnya suara dalam membela kebenaran. Ummat memerlukan pembelaan dari Ulama pemberani.

Ulama yang memiliki (setidaknya) ketiga hal di atas adalah pewaris Nabi yang sejati. Ulama yang didambakan kehadirannya dan ditangisi kepergiannya oleh ummat. Ada sebuah puisi pendek yang merupakan suara hati salah satu komponen ummat terhada Ulama:

Kami Masih Percaya

Kami yang terbelenggu di sini hanya menelan ludah
Ketika engkau terdiam belaka menyaksikannya :
Para setan menghina akal dan membunuh nurani

Kami yakin engkau bukan kuda perang gagah
Yang cuma memanggul pedang ilmu di punggungnya
Tanpa pernah bisa menghunusnya untuk menegakkan kebenaran

TomySaleh.Kalibata.18Jul2007.20:00wib


Ditulis oleh: Tomy Saleh. Kalibata. 28 Juli 2008. 16:23WIB (Selamat kepada Majelis Budaya Rakyat atas Premiere film "Sang Murabbi", Ahad, 27 Juli 2008, sebuah film tentang biografi Ulama yang memiliki ilmu yang luas, akhlaq yang solid, dan berani: Allahyarham Ustadz H. Rahmat Abdullah)