TELEPON DARI DIRIKU (Kumpulan Fiksi Mini Edisi Maret 2010)

1. Telepon Dari Diriku
Aku duduk-duduk di tepi zaman. Ponselku berdering. Ada telepon dari diriku.
"Ada apa?", tanyaku.
"Waktumu hampir tiba, merenunglah", jawabku.
(Posted in Twitter 17 March 2010)

2. Menunggu Diriku
Akupun merenung. Alam fikirku berputar bagai kopi hitam panas diaduk. Waktuku merayap bersamaan uap dari cangkirku. Aku menunggu diriku. (Posted in Twitter 18 March 2010)

3. Aku Nuranimu
Aku terus menunggu hingga dadaku diketuk-ketuk lembut tapi penuh wibawa.
"Siapa dan ada apa?", tanyaku.
"Aku nuranimu dan buka dadamu sekarang!", jawab suara itu.
(Posted in Twitter 19 March 2010)

4. Menahan Nurani
Ketukan lembut berubah jadi agak keras, "Buka segera! aku bawa kebijaksanaan untukmu!", kata nuraniku. Tapi celaka ! Pintu dadaku susah dibuka. (Posted in Twitter 21 March 2010)

5. Keramaian Yang Hening
Jam 8 malam. Aku terpaku di halte. Kendraan lalu lalang, obrolan orang-orang di sebelahku, dan alunan radio bobrok, semuanya menderukan keheningan. (Posted in Twitter 21 March 2010)

6. Plung !
Keringatku mengalir di pelipis. Bibirku menyeringai. Gerahamku bergemeletuk. Wajahku memerah. Aku menggeram tertahan. "Hhmmmh!" dan ..... Plung ! (Posted in Twitter 21 March 2010)

7. Bos Baruku
Aku langkahi mayat bosku. Aku tundukkan kepala penuh hormat pada pembunuhnya lalu kuraih tangannya dan kucium khidmat. Dia bos baruku kini. (Posted in Twitter 22 March 2010)

8. Sesal Pagi Hari
"Ah, pagi lagi", kataku sesal.
"Kenapa?", tanyanya.
"Aku bosan hirup hawa curiga, benci, dan dengki tiap pagi", kataku.
"Tidurlah", katanya.
(Posted in Twitter 22 March 2010)

9. Bos Baru Kami
Mereka berdatangan. Bos copet, bos parkiran, bos pasar, bos bank gelap, dan lain-lain. Mereka mengikutiku: mencium tangannya & mendapuknya jadi bos mereka. (Posted in Twitter 22 March 2010)

10. Politisi Pematung
Politisi itu juga pematung ulung. Diciptakannya 1000 patung yang sama. Dibariskan rapi. Lalu ia berpidato janji muluk di depannya. (Posted in Twitter 22 March 2010)

11. Ujian Tentang Ajal
Aku gelisah. Mata sulit fokus. Tangan gemetar menggenggam pensil. Di kertas soal ujian itu tertera: "Sudah berapa banyak bekalmu menjelang ajal?". (Posted in Twitter 23 March 2010)

12. Pelajaran Dari Kerasnya Hidup
Bapak mati ditusuk pemabuk. Adikku ada yang mati over dosis narkotik. Adikku yang lain jadi perek. Ibu jadi gila. Hidup mengajariku untuk kuat. Maka itu aku harus jadi preman terkuat. (Posted in Twitter 23 March 2010)


13. Kemacetan Jalan Dari Kacamata Anak TK

Dalam bus. Jalanan macet. Anak TK itu menepuk-nepuk tangan ibunya,

"Bun, aku tahu kenapa jalanan macet."

"Kenapa?"

"Karena ada baaanyaaak mobil dan motor."

(Posted in Twitter 23 March 2010)


14. Keluhan Sandal Jepit
"Wah sudah qomat koq dia belum keluar juga ya? Bisa gagal lagi nih jalan bareng subuhan di masjid.", keluh sepasang sandal jepit di teras rumah. (Posted in Twitter 23 March 2010)

15. Ujian Dalam Mimpi
Soal ujian ada seribu buah. Tidak ada soal pilihan ganda. Setengah dari soal ujian itu adalah soal matematika. Waktunya dua jam. Siswa-siswa panik ! Bagaimana dengan aku? Aku segera bangun dari mimpi... hoaaahm. (Posted in Twitter 23 March 2010)

16. Hanya Otaknya Yang Gelap
Siswa itu dengan tenang keluar ruang ujian paling akhir. Pada teman-temannya ia berkata, "Semua soal ujian itu gampang banget. Cuma otak gue yang gelap.". (Posted in Twitter 23 March 2010)

17. Doa Tentram Hati
Seorang ayah memberikan catatan doa pada anaknya jelang ujian. "Nak jangan lupa baca doa ini berulang-ulang sebelum berangkat, sebelum mulai dan selesai ujian, dan selama menunggu hasil ujian. Hati jadi lebih tentram saat kamu tidak lulus.". (Posted in Twitter 23 March 2010)

18. Isa Mau Ujian
"Quo vadis?", tanya Peter.
"Aku mau pergi ke sekolah untuk ujian lagi.", jawab Isa.
(Posted in Twitter 23 March 2010)

19. Gila Karena Ujian
"Hare gene gak ikut UN? Kesiaaan deh lo!", kata remaja itu pada seorang gembel yang bingung. Sudah setahun remaja itu gila karena tidak lulus Ujian Nasional. (Posted in Twitter 24 March 2010)

20. Ban Item
"Lu silat udah ban apa?"
"Baru ban item."
"Hah?! Hebat lu!"
"Hebat? Masih pemula kok, masih gelap, jadi bannya item."
(Posted in Twitter 24 March 2010)

21. Wan Dan Wati
Anak TK bertanya pada bundanya, "Bun, kalo pemuda dengan pemudi, wartawan dengan wartawati, apakah polwan dengan polwati?". (Posted in Twitter 24 March 2010)

22. Kisah Cinta Mur Dan Baut
"Kendiri aje neng?"
"Bedue ame yg nanye."
"Bole nih kite kenalan?"
"Bole, aye mur."
"Ooh, kalo aye baut."
Mereka akhirnya nikah.
(Posted in Twitter 24 March 2010)

23. Pohon Kontroversi Berbuah Bibir
Ia bukan petani atau peladang. Tapi ketika iseng menanam biji pohon kontroversi, tak lama bermunculan buahnya. Bukan di pohonnya, tapi di bibir orang-orang. (Posted in Twitter 24 March 2010)

24. Bibir Bersaksi
Di pengadilan agung. Mulut orang itu terkunci. Terdengar suara, "Saksi berikutnya Bibir! Bicaralah! Ceritakan semua!". Bibirpun mulai bersaksi. (Posted in Twitter 24 March 2010)

25. Zonder Label!
"Kamu Islam apa? Kalo aku NU."
"Aku Muhammadiyah."
"Aku Liberal."
"Aku Militan, kamu?"
"Aku? Aku ISLAM. Zonder label!"
(Posted in Twitter 24 March 2010)

26. Bibir Rakyat Dan Politisi
"Kamu siapa? 'koq dower dan elastis gitu?", tanya bibir rakyat.
"Aku bibir dalih dan diplomatis.", jawab bibir politisi.
(Posted in Twitter 25 March 2010)

27. Wajah-Wajah Yang Disenangi
"Aku bahagia sekali merasakan nafas wajah-wajah yang berbaris itu" kata karpet masjid kepada tembok masjid. (Posted in Twitter 25 March 2010)

28. Kerinduan Tak Bersambut
Orang gila itu mengumpulkan angin, bebatuan, dan dedaunan lalu dengan sedih dia berkata, "Hanya kalian yang menyambut kerinduanku.". (Posted in Twitter 25 March 2010)

29. Ia Yang Mati Tenang Di Dalam Bus
Ia duduk tenang di bus. Jarinya mengeja butir-butir biji tasbih lalu terlelap. Bus kecelakaan dan terbakar. Ia tetap duduk tenang. Mati. Tak tersentuh api. (Posted in Twitter 25 March 2010)

30. Supporter Ingin Mati
Remaja kere supporter klub bola itu terkapar ditusuk supporter klub lain dalam tawuran. Ketika siuman di RS ia sedih, "Kok aku blm mati?" (Posted in Twitter 25 March 2010)

31. Ketua Perkumpulan Bola Yang Diharap Matinya
Penggila bola itu berkerumun. Mereka bertaruh. Bukan untuk kemenangan tim mereka tapi untuk ketua perkumpulan bola: ia harus mati hari ini atau besok. (Posted in Twitter 25 March 2010)

32. Pertandingan Antar Wasit
Seluruh penonton terkejut. Alangkah banyaknya wasit di lapangan itu. Rupanya kini giliran para wasit yang bermain bola. (Posted in Twitter 26 March 2010) --> terinspirasi dari sebuah lelucon.

33. Sepak Manusia
Tim bola hitam berhadapan dengan tim bola putih. Penonton bersorak sorai. Yg jadi manusia adalah Beckham. Ya ini sepak manusia di negeri bola. (Posted in Twitter 26 March 2010)

34. Bom Cinta Kasih
Ia kenakan rompi kepedulian itu. Ia pasang timer bom kasih sayang. Ia menuju ke rakyat jelata lalu - klik - BUM ! Meledaklah bom cinta kasih itu. (Posted in Twitter 26 March 2010)

35. Bola Yang Ketakutan
Bola itu berkeringat, terengah-engah, dan menggelinding cepat! Ia dikejar para pemain bola yang beringas dan bernafsu ingin menghancurkannya. (Posted in Twitter 26 March 2010)

36. Pertandingan Antar Supporter
Aku heran. Di berita hari ini akan berlaga kesebelasan A vs. B. Aku ke sana, tak ada pertandingan bola! Para supporter kedua tim sedang berlaga. (Posted in Twitter 26 March 2010)

37. Si Pembenci Cermin
"Aku benci cermin!". Ia hancurkan setiap cermin yang ada di dekatnya. Ia pria penghancur cermin. Ia pria yang tidak punya wajah. (Posted in Twitter 26 March 2010)

38. Persetubuhan Malam Dan Siang
Sang malam mendatangi sang siang lalu merayunya kemudian menyetubuhinya. Sehari dua kali. Maka lahirlah dua anak: senja dan fajar. (Posted in Twitter 26 March 2010)

39. Save The Earth!
"Dukung earth hour. Save the earth!", ketiknya di ponsel Blackberry, meng-update status Facebook-nya. Lalu ia start sepeda motornya melaju ke toko 24 jam yang cuma berjarak 150m dari rumahnya. (Posted in Twitter 26 March 2010)

40. Persiapan Revolusi
"Apa yang kalian siapkan untuk revolusi?"
"Pisau!"
"Golok!"
"Bom!"
Lalu lewatlah tiga ekor kecoa dan merekapun berlompatan penuh jijik.
(Posted in Twitter 28 March 2010)

41. Alat Pemutih Wajah
Ia sudah coba sabun, krim, lotion, dan salep. Akhirnya ia temukan alat untuk memutihkan wajahnya: silet. Ia iris nadinya. (Posted in Twitter 28 March 2010)

42. Dilema Pemboikot Pajak
"Mari kita boikot pajak sebagai bentuk protes!", katanya dalam konferensi press di sebuah kafe. Setelah selesai acara,
"Tolong bill-nya mbak!", pintanya pada pelayan
"Semua dua juta pak. Sudah termasuk PPn", kata pelayan
"OK"
(Posted in Twitter 28 March 2010)

43. Dilema Penelpon Diri Sendiri
"Halo?"
"Ya?"
"Apa kabar?"
"Baik"
"Yakin baik?"
"Eh, enggak ding... lagi pusing nih"
"Kenapa?"
"Masak aku nelpon diriku sendiri sih?"
(Posted in Twitter 29 March 2010)

44. Perkenalkan: Ms. Communication
Ia punya dua handphone CDMA, dua handphone GSM biasa, satu Blackberry, satu i-phone, dan satu netbook. Ia bawa semua ke mana pun ia pergi. Dia adalah MissCommunication. (Posted in Twitter 29 March 2010)

46. Ponsel Sekarat
Tiada sinyal, pulsa habis, dan baterai tiris. Ia pun siapkan secarik kafan untuk handphone-nya. Sebentar lagi mati. (Posted in Twitter 29 March 2010)

47. Di TV Mereka Sekarat
Mereka menatap tv. Wajah mereka menantikan sesuatu. Lalu meledaklah tawa mereka sambil menunjuk-nunjuk tv. Di tv ada adegan mereka sedang sakratul maut. (Posted in Twitter 29 March 2010)

48. Tuyul Dan Pejabat
Tuyul itu mengenakan stelan jas terbaik. Ia siapkan uang satu koper penuh. Di hotel ia bertemu si pejabat dan ia serahkan koper tersebut. (Posted in Twitter 29 March 2010)

49. Direktorat Jenderal Tuyul
Di kantor Ditjen megah itu ada aula remang-remang. Di dalamnya ada ratusan baskom berisi lilin masing-masing dijaga satu orang. Para staf sedang ngepet & nuyul. (Posted in Twitter 29 March 2010)

50. Dukamu Sukaku
"Kok murung?", ia bertanya.
"Rezeki lagi seret. Bayangkan aja, masak dalam tiga bulan ini yang mati cuma dua orang...", jawab tukang gali kubur.
(Posted in Twitter 29 March 2010) --> terinspirasi dari ceramah K.H. Tohri Tohir dalam sebuah acara.

51. Formasi Fiksi Mini
Ia memanggil bala tentara huruf. Tapi yang hadir hanya 120 saja. Maka ia perintahkan mereka membentuk formasi pertahanan yaitu Fiksi Mini. (Posted in Twitter 30 March 2010)

52. Salah Dalam Belajar Itu Wajar
"Salah dalam belajar itu wajar. Namanya juga masih belajar", kata guru silat itu. Muridnya menggelepar-gelepar di tanah. Darah mengalir dari lehernya. (Posted in Twitter 30 March 2010)

53. Ujian Open Book
"Seperti pekan lalu sudah dismpaikan, hari ini ujian", kata guru.
"Belum siap pak", kata murid.
"Baik. Kalau gitu boleh open book kok, tapi closing eyes", kata guru.
(Posted in Twitter 30 March 2010)

54. Praktek Fiksi Mini
Di kelas itu, guru dan murid-muridnya duduk tertunduk khusyuk. Mereka bukan berdoa. Mereka sedang praktek tweeting Fiksi Mini via ponsel masing-masing. (Posted in Twitter 30 March 2010)

55. Praktek Anti-Korupsi
Guru itu membawa senapan.
"Anak-anak, sekarang kita belajar anti-korupsi".
"Senapan utk apa bu?".
"Kita akan tembak kepsek koruptor itu!".
(Posted in Twitter 30 March 2010)

56. Kelas Telepati
Di kelas itu ada 30 murid. Guru berdiri di depan kelas menatap murid-muridnya. Tiada suara. Hening. Dua jam berlalu. Pelajaran telepati usai sudah. (Posted in Twitter 30 March 2010)

57. Guru Moral
Dulunya ia pemabuk, koruptor, gigolo, penjudi, bandar narkoba, tukang pukul, penipu, dan germo. Sekarang ia jadi guru pelajaran moral. (Posted in Twitter 30 March 2010)

58. Pemakan Uang Haram
Jayus perutnya gendut bukan main. Kata orangorang ia pemakan uang haram. Ia biasa merobek kecil-kecil uang suap, lalu mengunyah dan memakannya. (Posted in Twitter 31 March 2010)

59. Jagoan Tangguh Sejak Lahir
Ia jagoan tangguh sejak lahir. Ia tidak lahir secara normal ataupun operasi caesar. Ia lahir ke dunia dengan menyobek-nyobek perut ibunya. (Posted in Twitter 31 March 2010)

60. Cara Membentuk Perut Six Pack
Ia letih melatih perutnya yang bergelambir. Ia pun ada ide. Ia asah pisau hingga tajam lalu mengerat-ngerat perutnya hingga berbentuk six pack. (Posted in Twitter 31 March 2010)

61. Tak Punya Perut
"Rotiku mana?".
"Gak tau".
"Kau makan ya?".
"Enggak!".
"Ngaku aja deh!".
"Gimana bisa makan, wong aku aja enggak punya perut!"
(Posted in Twitter 31 March 2010)

62. Diperintah Perut Dan Kelamin
Sejak jadi pejabat, otak dan hatinya kalah perang dengan perut dan kelaminnya sendiri. Akhirnya kini ia diperintah oleh perut dan kelamin. (Posted in Twitter 31 March 2010)

63. Berbagi Perut
"Wah makin gendut aja lu. Bagi-bagi dikit dong. Gue masih kurus nih". Ia pun mengambil golok, memotong perutnya jadi dua, dan memberikan satu pada temannya. (Posted in Twitter 31 March 2010)

64. Guru Yang Sekarat
Pensiunan guru itu sekarat. Istrinya membisiki nama-nama muridnya yang sukses. Ia tersenyum. Kemudian ada murid disebut ditangkap KPK. Ia pun wafat. (Posted in Twitter 31 March 2010)

65. Guru Pengamen
"Ayah...ayah... guruku di sekolah itu juga seorang seniman yah".
"Oh ya?".
"Iya yah, aku sering lihat pak guru nyanyi di bus kota".
(Posted in Twitter 31 March 2010)

66. Anak Yang Berbakti
Dia anak yang berbakti. Selalu mencium tangan ibu kalau pamitan. Sepuluh tahun yang lalu ibunya wafat. Ia tetap mencium tangan ibunya... yang ia potong dan awetkan. (Posted in Twitter 31 March 2010)

67. Aku Gayus!
Di sebuah ruangan. Beberapa orang saling bangga.
"Aku komandan pasukan!".
"Aku wakil panglima!!".
"Aku jenderal!!!".
"Aku GAYUS!!!!".
Semua sujud di kaki Gayus.
(Posted in Twitter 31 March 2010) --> *note: Gayus Tambunan adalah eks. PNS Ditjen Pajak yang jadi tersangka kasus korupsi 28M yang juga melibatkan banyak pihak termasuk perwira tinggi Polri.

Tomy Saleh. Kalibata. Dikompilasi pada 8 April 2010.

TAWANYA PALSU (Kumpulan Fiksi Mini Edisi Mei 2010)

1. Tawanya Palsu
"Huh! Tawanya palsu!"
"Tahu dari mana?"
"Cuma bibirnya yang tertawa. Bahu dan matanya tidak."
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

2. Tegur Sapa Tak Tulus
"Huh! Tegur sapanya tak tulus!"
"Kok bisa?"
"Iya. Jabat tangannya lemah dan matanya tidak menatapku!"
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

3. Veteran Yang Tersisih
Veteran itu sering ke makam pahlawan. "Di sini aku dihargai. Kompak dengan teman-teman seperjuangan. Di luar sana aku cuma orang tua hina." (Posted in Twitter, 3 May 2010)

4. Tiga Sendok Makan/Hari
Ia mati. Tiga buah sendok makan menyumbat tenggorokannya. Tangannya memegang sebotol obat. Tertera di botol: tiga sendok makan/hari. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

5. Sendok Kenangan
Ujang duduk di samping makam si neng. Ia pandangi sebuah sendok. Di situ tersimpan kenangan waktu mereka saling menyuapi makan. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

6. Kelaparan Sendok
"Pak, terjadi kelaparan di sebelah timur!"
"Apa?! Kasihan mereka! Kau kirimlah jutaan sendok ke sana!"
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

7. Piring, Gelas, Dan Sendok Kebanggaan
"Biarpun belum ada nasi dan lauk setidaknya piring, gelas, dan sendok, kita sudah punya dan siap pakai.", wong kere itu mencoba bangga. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

8. Piring Dan Sendok Berdemo
Di salah satu sudut gubuk reot itu ada keributan. Piring dan sendok berdemo. "Kami ingin pekerjaan! Kami sudah lama nganggur!". (Posted in Twitter, 3 May 2010)

9. Mata Panah Diganti Sendok
Anak-anak panah itu tak melukainya. Achilles tertawa-tawa. Paris panik. Rupanya ada yang mengganti mata panahnya dengan sendok! (Posted in Twitter, 3 May 2010) --> inspired from Troy.

10. Cinta Palsu
"I luv u", SMS suami.
"I luv u 2", balas istri.
Kemudian mereka asyik lagi dgn selingkuhan masing2.
(Posted in Twitter, 4 May 2010)

11. Majalah Untuk Anak
Ia tersenyum menenteng seikat majalah anak-anak bekas. Ia sisihkan uang dari ngasong untuk membelinya. Terbayang wajah anaknya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

12. Majalah Pribadi
Bosan mengirim tulisannya yang tak pernah juga dimuat di berbagai majalah, ia membuat majalah sendiri, yang selalu memuat tulisannya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

13. Majalah Telepathy
"Telah terbit edisi baru. Kukirim sekarang.", kata penerbit majalah "Telepathy" itu dalam hati sambil bersila dan memejamkan mata di kamarnya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

14. Rubrik Favorit
Di majalah "Santet" ada rubrik favorit para pembaca, para dukun santet, yaitu: Testimoni, kisah-kisah para korban santet. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

15. Membunuh Kakek Di Masa Lalu
Ia baru tahu kakeknya dulu adalah pembunuh. Dengan mesin waktu ia balik ke masa lalu untuk membunuh kakeknya. Begitu kembali ke masanya, ia hilang! (Posted in Twitter, 5 May 2010)

16. Adik Selamat, Ia Mati
Karena terpeleset dan telat pegang tangannya, adiknya mati tergilas truk. Ia kembali ke masa itu dan selamatkan adiknya. Tapi ia mati tergilas truk. (Posted in Twitter, 5 May 2010)

17. Perenang Kata-Kata
Sejak kehilangan kaki, mantan perenang itu lebih banyak di rumah. "Jangan salah bung! Aku masih tetap berenang. Tapi di kolam kata-kata." Ya. Ia jadi penulis. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

18. Mati Di Danau Kata-Kata
Penyair muda itu mati di mejanya. Tubuhnya bengkak. Dari mulutnya mengalir huruf-huruf. Tadi ia berenang di danau kata-kata, tapi malah tenggelam. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

19. Berenang Ke Tempat Paman
Pamannya, Sam, menelpon supaya ia tinggal di rumah si paman. Merasa hebat, ia akan berenang ke benua seberang, tempat paman. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

20. Berenang Dan Menyelam Mencari Mutiara
"Wuih, kuyup amat.."
"Iya nih. Abis berenang dan nyelam di lautan beton ibukota."
"Ngapain?"
"Nyari mutiara lowongan kerja.."
(Posted in Twitter, 6 May 2010)

21. Pintu Nurani Yang Terbuka
"Assalamu'alaikum", salam angin perubahan.
"Wa'alaikumsalam", jawab pintu nurani. Ia membuka diri. Angin masuk. Diri berganti.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

22. Jodoh Si Pembuat Pintu
"Akhirnya jodohku ketemu.", kata Si pembuat pintu.
"Oh, ya? Selamat bung. Siapa dia?", tanyaku.
"Gadis pembuat kunci.", jawabnya.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

23. Malas Membaca Pintu Terkunci
Sejak malas membaca, pintu pengetahuan terkunci rapat. Ia tidak bisa masuk ke dalam rumah yang nyaman itu. Ia di luar: lapar, haus, dan kedinginan. (Posted in Twitter, 10 May 2010)

24. Tak Ada Pintu, Cuma Tembok Rapuh
"Kalau kau paksa masuk ke hatiku maka ia akan hancur.", Kataku.
"Kenapa?", Tanyanya.
"Hatiku tidak ada pintu dan jendela, cuma tembok rapuh.", Jawabku.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

25. Saya Tidak Ngomel !
"SIAPA YG NGOMEL?! KAMU 'TUH JANGAN SEMBARANGAN NUDUH ORANG NGOMEL YA!!", katanya kepada seseorang di suatu forum. (Posted in Twitter, 11 May 2010)

26. Punggung Saling Mengomeli
Pasangan suami istri itu diam. Mereka saling memunggungi. Lalu punggung mereka saling mengomeli. Tanpa suara. (Posted in Twitter, 11 May 2010)

27. Berlibur Ke Kubur Nenek
Dia menenteng sekop. "Dapat surat dari nenek. Aku diajak berlibur ke rumahnya.", katanya. Neneknya sudah wafat. Kuburnya ada di kaki bukit. (Posted in Twitter, 14 May 2010)

28. Tersinggung Pada Angin
Dari jauh kulihat angin mendorong bunga itu ke arahku. Tapi wanginya pun tak menghampiriku. Aku tersinggung. (Posted in Twitter, 17 May 2010)

29. Bukan Serigala Yang Memakannya
"Aku memang di sana, tapi bukan aku yang memakan nenekmu!", kata Serigala. Si kerudung merah tak percaya. Ia lihat ada sobekan kain di sela giginya. (Posted in Twitter, 18 May 2010)

30. Jamu Awet Muda
Si mbok bakul jamu itu menggendong jamunya. Rutinitas harian. Tak ada yg tahu ia berusia 273 thn. Ia rajin minum jamunya sendiri. (Posted in Twitter, 25 May 2010)

31. Pensiunan Superhero
Dari balik tikungan sebuah truk trailer tak bisa menahan laju dan menabrak seorang kakek. Truk itu ringsek. Si kakek pensiunan superhero. (Posted in Twitter, 25 May 2010)

32. Ciuman Pertama Dan Terakhir
Ia senang bukan main dapat mobil pertamanya. Saking girangnya ia bawa mobil itu dengan kencang hingga mobil itu dapat ciuman pertamanya dari KRL. (Posted in Twitter, 26 May 2010)

Tomy Bustomy. Kalibata. 1 Juni 2010. 08:26WIB

Pilihan Dan Konsekuensi

Saya mendapati fakta menarik dalam kehidupan saya, setelah saya amati sekian lama. Saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah daerah permukiman di Jakarta Barat. Rumah itu terletak di salah satu sudut yang dikelilingi tembok tinggi rumah para tetangga. Cukup tersembunyi dan relatif jauh dari kebisingan. Tidak ada kendaraan umum yang melalui jalan di depan rumah. Jalan di depan rumah termasuk jalan permukiman yang tidak banyak dilalui kendaraan. Ujung jalan tersebut bertemu dengan jalan besar yang, belakangan ini, sering macet. Kendaraan umum berseliweran 24 jam di jalan besar tersebut. Setiap hendak bepergian, saya kerap melalui jalan besar tersebut, karena di jalan itulah ada kendaraan umum. Jarak dari rumah hingga jalan besar (melalui jalan permukiman tadi) kira-kira 300 m. Pada jarak 100 m dari rumah saya, jalan permukiman itu bercabang membentuk pertigaan; lurus akan mengarah ke jalan besar, belok kiri akan mengarah ke jalan permukiman lain. Di pertigaan inilah ada satu-satunya kendaraan umum yang melintas: mikrolet (angkutan umum dari modifikasi mobil minibus/MPV; umumnya Toyota Kijang, belakangan ini ada pula yang dari Isuzu Panther, Suzuki Carry, dan Daihatsu GrandMax). Salah satu rutenya adalah menuju ujung jalan yang bertemu jalan besar. Jarak dari pertigaan menuju jalan besar kira-kira 200 m. Untuk menuju jalan besar, saya mesti melalui pertigaan tersebut.

Jika saya MEMILIH naik mikrolet menuju jalan besar, maka KONSEKUENSINYA saya harus keluar uang Rp 2000, TAPI lebih cepat tiba di jalan besar dan lebih santai. Jika saya MEMILIH berjalan kaki menuju jalan besar itu, maka KONSEKUENSINYA saya harus mengeluarkan energi ekstra dan butuh waktu lebih lama untuk tiba di jalan raya (kira-kira 7 hingga 10 menit lebih lama dibanding naik kendaraan), TAPI hemat uang Rp 2000.

Dari jalan besar itu saya masih harus naik kendaraan umum lain untuk tiba di tujuan, katakanlah kantor. Saya harus naik mikrolet lain menuju perempatan jalan raya propinsi (ongkos: Rp 2500). Dari perempatan jalan raya propinsi itu saya masih harus naik bus kota menuju kantor (ongkos: Rp 2500). Bus kota itu akan berhenti di ujung jalan permukiman di kawasan Jakarta Selatan. Jarak ujung jalan menuju kantor kira-kira 200 m. Jika saya MEMILIH jalan kaki dari rumah menuju jalan besar lalu naik mikrolet menuju perempatan jalan raya propinsi dan naik bus kota menuju kantor, maka KONSEKUENSINYA, seperti di atas, saya harus keluar ekstra energi dan sedikit lebih lama, TAPI saya hanya perlu keluar uang Rp 5000 (sampai tiba di kantor), walaupun mungkin kondisi bus kota sudah penuh (karena perempatan tersebut hanyalah salah satu perhentian saja dari sekian perhentian sejak bus meluncur dari terminal)

Sebenarnya, mikrolet yang melintas di jalan permukiman dekat rumah saya itu bisa juga membawa saya menuju jalan raya propinsi untuk kemudian saya menyambung lagi naik bus kota menuju kantor. Saya hanya perlu membayar mikrolet itu Rp 2500. Rutenya adalah melewati jalan besar seperti saya sebut di atas lalu berkelok-kelok memasuki jalan permukiman lain hingga tiba di sebuah pasar di pinggir jalan raya propinsi. Tapi bus kota yang saya perlukan ada di seberang jalan raya propinsi itu. Maka saya harus menaiki tangga penyeberangan jalan lalu berjalan kaki lagi kira-kira 100 m menuju halte bus. Jika saya MEMILIH opsi ini (naik mikrolet hingga pasar) lalu saya naik bus kota menuju kantor (dengan ongkos bus Rp 2500), maka KONSEKUENSINYA saya harus keluar energi ekstra naik jembatan penyeberangan dan berjalan lagi 100 m menuju halte, TAPI saya hanya perlu keluar uang Rp 5000 (sampai di kantor) dan mendapati bus yang tidak terlalu padat (dibandingkan bila harus naik bus tersebut di perempatan jalan raya propinsi, sebagaimana saya sebut di atas).

Hal-hal di atas adalah dengan asumsi saya berangkat ke kantor jam 6 pagi. Jika saya berangkat jam 6:30 atau lebih dari itu, maka PILIHAN dan KONSEKUENSINYA akan berubah lagi. Dari pertigaan di jalan permukiman, saya harus naik mikrolet ke ujung jalan besar (ongkos: Rp 2000) lalu naik mikrolet lagi menuju perempatan jalan raya propinsi (ongkos: Rp 2500). Dari situ saya mungkin tidak akan memilih naik bus kota yang langsung menuju lokasi kantor, karena bus tersebut kemungkinan sudah penuh atau harus menunggu lebih lama lagi hingga bus berikutnya tiba karena saya sudah tertinggal jadwal bus pagi. Oleh sebab itu saya akan memilih naik bus lain hingga ke salah satu perempatan lain lalu menyambung lagi naik bus kecil menuju kantor. Masing-masing ongkosnya Rp 2000. Sehingga total saya harus keluar ongkos Rp 8500. Tapi saya bisa sedikit antisipasi datang terlambat ke kantor.

Kemudian saya berfikir bagaimana kalau saya MEMILIH pindah rumah ke pinggir jalan besar? Segera saya dapati KONSEKUENSI bahwa harga sewanya lebih mahal plus saya akan memperoleh suasana bisingnya jalan raya. Atau saya mungkin bisa MEMILIH pindah rumah ke dekat kantor? Tapi KONSEKUENSINYA belum tentu ada rumah dengan harga sewa yang sama dengan rumah yang sekarang saya tempati dan hampir dapat dipastikan saya harus keluar ongkos ekstra lagi, karena sebahagian besar aktivitas dan amanah saya (aktivitas luar kantor, seperti sosial) ada di Jakarta Barat.

Lalu ada opsi lain: membeli sepeda motor. KONSEKUENSINYA adalah saya akan 'terikat' dengan motor tersebut: harus mencucinya, tune up rutin, bayar pajak, dan lain-lain. Belum lagi ruang di rumah akan menjadi lebih sempit dengan kehadiran motor tersebut. Bagaimana dengan mobil? Biaya cicilan mobil yang paling murah sama dengan seluruh gaji bulanan saya tanpa tersisa sedikitpun untuk membiayai makan dan tagihan rutin. Plus tidak ada tempat untuk meletakkan mobil tersebut.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka curhat. Maksud saya menulis di atas adalah hendak menyampaikan bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya. Kata orang, hidup itu adalah pilihan. Setiap kita menjalani kehidupannya masing-masing. Pola atau bentuk kehidupan tersebut sesuai dengan apa yang dipilihnya sebagai jalan hidup. Setiap pilihan itu memberikan konsekuensi dalam wujud yang khas. Kita dituntut untuk mempergunakan akal fikiran dan hati nurani yang sehat dalam menentukan pilihan karena hal ini terkait erat dengan kesiapan menanggung konsekuensinya. Setiap pilihan hendaklah "diterawang", diteliti dengan seksama, check and re-check, dan berkaca pada pengalaman (pribadi maupun orang lain). Sehingga setiap pilihan di pilih dengan bijaksana, ikhlas, sadar, paham, dan siap dengan konsekuensinya. Ketika menjalani pilihan tersebut pun dengan rasa senang, tenang, nyaman, dan penuh perhitungan dan perencanaan.

Mari kita simak firman Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8 berikut ini:

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,"

Allah SWT memberikan pilihan kepada kita: fasiq (jahat, munkar) dan taqwa. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika memilih taqwa, maka konsekuensinya tertera di ayat berikutnya (ayat 9):

"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,"

Dan jika memilih fasiq, maka konsekuensinya ada di ayat selanjutnya (ayat 10):

"dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Di surat dan ayat yang lain Allah SWT juga banyak memberikan pilihan beserta konsekuensinya kepada manusia. DiberikanNYA kita akal fikiran dan nurani untuk dipergunakan menimbang-nimbang dan memilih pilihan yang tepat. Tidak cukup hanya itu, Allah SWT memberikan pula sejumlah contoh kasusnya dalam kehidupan nyata (yaitu dari kisah-kisah kaum terdahulu) untuk dijadikan pelajaran bagi kita.

Pilihan-pilihan beserta konsekuensinya masing-masing akan turut menentukan bentuk dan kualitas hidup kita. Orang yang memilih banyak bersantai-santai di waktu muda, maka konsekuensinya ia akan bodoh dan miskin di waktu tuanya. Orang yang memilih banyak bekerja keras dan berbagi dengan sesama di waktu muda, maka konsekuensinya ia akan hidup damai dan makmur di hari tuanya. Orang yang memilih memperkaya diri sewaktu menjabat sebagai pemimpin, padahal rakyatnya ada yang kelaparan, maka konsekuensinya ia akan kehilangan kehormatan dirinya dan dikutuk Allah SWT. Orang yang memilih beribadah, jujur, tekun, dan berjuang di jalan Allah, maka konsekuensinya ia akan memperoleh salah satu dari dua: hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Jadi, apa pilihan hidup anda? Tentukan dari sekarang dan JANGAN SALAH PILIH.

Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang yang memilih ridhoNYA. Aamiin.

Tomy Saleh. Kalibata. 30 Desember 2009. 13:06WIB