..suara sikap hati itu harus tetap dikumandangkan, sekalipun cuma sayup-sayup terdengar di tengah-tengah hingar bingar teriakan dunia..
Tantangan Gerakan #IndonesiaTanpaJIL : Sebuah Renungan & Saran
Gerakan #IndonesiaTanpaJIL (sering disingkat #ITJ) baru seumur jagung. Sejak "dideklarasikan" sekitar Februari atau Maret 2012 lalu (melalui media sosial twitter, dengan hashtag #IndonesiaTanpaJIL & akun @TanpaJIL), gerakan ini sudah mulai menampakkan geliatnya. Di berbagai daerah, turut pula "dideklarasikan" gerakan ini. Depok, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, dan lain-lain. Di dalamnya berhimpun para aktivis media sosial (twitter) yang memiliki sikap yang sama terhadap JIL (Jaringan Islam Liberal): menolak. Para aktivis di #ITJ terdiri dari beragam latar belakang. Ada mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, akademisi, aktivis parpol, aktivis berbagai ormas & gerakan Islam, dan lain-lain. Yang kerap dilakukan #ITJ (di berbagai daerah) adalah aksi tebar flyer/brosur/bulettin yang berisi berbagai ke-nyeleneh-an JIL dan juga mengadakan kajian/diskusi mengenai pemikiran yang diusung-diasong JIL dan counter attack-nya. Untuk melengkapi aktivitasnya, gerakan #ITJ juga membuat website: http://www.indonesiatanpajil.com.
Seiring waktu yang berjalan, tentu saja gerakan #ITJ (akan, sudah, & sedang) menghadapi berbagai tantangan. Ini sunnatullah dalam berjuang. Tidak mungkin sebuah perjuangan akan berjalan mulus begitu saja. Terlebih lagi jika ini perjuangan yang menyangkut aqidah Islam. Dengan tantangan ini, akan terlihat sejauh mana kekuatan, keistiqomahan, serta kecerdasan gerakan #ITJ. Semua pegiat #ITJ, mau tidak mau, harus bekerjasama menjawab tantangan. Apa saja tantangan yang dihadapi? Setidaknya ada dua:
1. Pemerataan & Peningkatan Wawasan
Gerakan yang berlandaskan pada emosi (amarah) belaka, hanya akan berujung pada keletihan. Amarah itu menguras energi. Sebaliknya, gerakan yang berlandaskan pada visi, misi, wacana, dan program kerja yang jelas, insya Allah akan langgeng, ajeg, dan bisa mencapai tujuan-tujuannya. Dalam wadah #ITJ, tidak semua pegiatnya memiliki wawasan yang sama. Ada yang memang spesialis pemikiran Islam, ada pula yang kurang banyak membaca. Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan bahwa kita perlu tahu kejahiliyahan agar bisa menghindari dan melawannya. Pemikiran JIL sudah disepakati oleh pegiat-pegiat #ITJ sebagai pemikiran yang salah arah (sesat). Tapi seperti apa bentuknya, apa konsideran yang dipakai JIL, bagaimana trik mereka memainkan wacananya, serta bagaimana menemukan titik lemah dan 'meruntuhkan' argumen JIL, belum tentu semua pegiat #ITJ tahu akan hal tersebut. Tentu saja ini sangat rentan. Alih-alih mau menegakkan dalil dan melawan pemikiran JIL, justru boleh jadi malah akan terjebak dalam permainan wacana JIL. Ini berbahaya. Bisa melemahkan perjuangan. Saran: rekan-rekan pegiat JIL yang Allah SWT karuniakan wawasan yang lebih luas mengenai pemikiran Islam, jangan ragu-ragu untuk berbagi wawasan ke sesama pegiat #ITJ lainnya. Paling minimal sekadar kultwit. Lebih sip lagi menulis di website #ITJ atau blog pribadi yang di-share link-nya. Paling afdhol adalah road show ke berbagai 'cabang' #ITJ untuk kopdar sambil mengadakan kajian ilmiah. Hafidz Ary (@hafidz_ary) dan Akmal Sjafril (@malakmalakmal) adalah contoh pegiat #ITJ yang cukup rajin melakukan hal-hal di atas. Setidaknya ini yang diketahui oleh penulis. Tentu saja masih banyak pegiat-pegiat #ITJ yang melakukan hal serupa. Dengan adanya pemerataan dan peningkatan wawasan ini, tentunya akan semakin menambah keyakinan dan semangat dalam perjuangan di #ITJ.
2. Mengelola Perbedaan
Sebagaimana telah disinggung di awal, di dalam #ITJ berhimpun beragam orang. Rambut sama hitam, tapi isi kepala (pemikiran) berbeda-beda. Ditambah lagi kenyataan bahwa di #ITJ tidak ada struktur organisasi. #ITJ bisa dibilang cuma berwujud 'forum' atau 'paguyuban'. Yang ada cuma koordinator yang sebenarnya lebih berfungsi mengkoordinir kegiatan #ITJ dan sebagai pusat informasi. Setiap pegiat #ITJ berhak untuk memberikan sumbangsih bagi kelangsungan gerakan #ITJ, sesuai dengan kemampuan dan latar belakangnya. Salah seorang pegiat #ITJ dengan akun @fikreatif pernah mengatakan bahwa perbedaan latar belakang harokah (pergerakan) masing-masing pegiat #ITJ, cukup beresiko menghadirkan friksi di internal #ITJ. Belakangan ini hal itu cukup terbukti. Misalnya ada yang merasa dan menganggap bahwa #ITJ dijadikan sarana kampanye parpol tertentu dan hendak menarik #ITJ ke ranah politik praktis. #ITJ hendak dijadikan salah satu kendaraan politik. Atau ada pula yang merasa gerakan #ITJ ini gerakan tipu-tipu belaka. Teriak-teriak anti JIL tapi sebenarnya sami mawon dengan JIL, karena pegiat-pegiatnya tidak menolak demokrasi (yang bagi sebagian orang dianggap sistem kafir dan haram hukumnya). Demokrasi dianggap bagian dari liberalisme dan sekulerisme yang selama ini menjadi ciri khas JIL. Hal-hal tersebut menimbulkan friksi yang cukup tajam. Perdebatan panas berlangsung berhari-hari di ranah twitter. Twitwar (istilah untuk menyebut perdebatan di twitter) membahana. Mulai dari lontar argumen, hingga lempar ejekan. Apa akibatnya? Pegiat #ITJ sibuk saling "menikam" sesamanya. Lupa pada tujuan semula gerakan ini dicetuskan. Terus terang, penulis adalah salah satu yang terlibat twitwar tersebut (dengan "faksi" anti demokrasi). Namun setelah merenung dan diskusi, akhirnya penulis memutuskan untuk meninggalkan dunia twitter (deactivate account). Semata-mata demi menjaga mulut dan hati (bukan soal menang-kalah argumen). 'toh perjuangan #ITJ tidak hanya lewat twitter. Bisa lewat cara lain, seperti blog, misalnya. Saran: hendaklah setiap pegiat #ITJ fokus pada cita-cita awal gerakan: melawan pemikiran JIL. Saling mengingatkan akan hal ini. Di wadah #ITJ, lupakan 'ego' harokah (latar belakang gerakan) masing-masing (sebagaimana saran @fikreatif). Di sini ada common enemy: JIL. Jangan acungkan moncong senapan ke sesama pegiat #ITJ. Arahkan semua senjata ke JIL. Merekalah sasaran tembaknya. Lebih bagus lagi bila bisa mengadakan kopdar secara berkala. Silaturrahim bisa mencegah friksi.
Semoga pegiat-pegiat #ITJ bisa lebih bijak dalam menghadapi tantangan ini. Sehingga tujuan gerakan #ITJ bisa tercapai. Semoga Allah senantiasa memberkahi kita semua.
Tomy Saleh. Kalibata. 4 Juli 2012
Risalah Ta’alim sebagai petunjuk taktis pembinaan kader da’wah
Pendahuluan
Risalah Ta’alim (RT) merupakan salah satu risalah Imam syahid Hassan Al Banna yang termuat dalam buku Majmu’atu Rosa-il. RT ini boleh dikatakan memiliki keistimewaan karena RT berisi petunjuk taktis dalam hal membina kader-kader da’wah. Secara umum isi RT dibagi ke dalam 2 (dua) bagian yaitu: rukun bai’ah dan kewajiban seorang kader. Rukun bai’ah merupakan landasan ideologis dari RT sedangkan kewajiban seorang kader merupakan implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam rukun bai’ah tersebut.
Hendaklah RT ini dibaca dengan seksama, ditelaah dengan serius, dan diimplementasikan dengan konsisten. Ini menjadi bekalan kader da’wah dalam membentuk aqidah, akhlaq, tsaqofah, serta militansi. Hal-hal inilah yang akan menjadi basis kepribadian kader yang kokoh dan tahan banting dalam menjalankan amanah risalah da’wah.
Mengapa RT?
Allah SWT berfirman, “(103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (104) Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (105) Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali Imran: 103-105)
Ayat-ayat di atas merupakan petunjuk yang jelas dari Allah SWT mengenai pentingnya soliditas, pentingnya aktivitas da’wah secara berjama’ah, dan tercelanya perpecahan. Inilah nilai-nilai penting bagi da’wah kita. Setiap person yang terlibat dalam da’wah ini harus memahami hal ini untuk kemudian direalisasikan. Mengapa da’wah harus dilakukan secara berjama’ah dan membutuhkan soliditas internal jama’ah tersebut? Jawabnya adalah karena da’wah memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Thuulut thariq. Jalannya amat panjang dan melelahkan dalam menempuhnya. Dibutuhkan kebersamaan dalam menapaki jalan yang panjang. Kebersamaan yang saling menguatkan dalam kasih sayang, kebenaran, dan kesabaran. Tatkala ada al akh yang merasakan keletihan, akan ada al akh lain yang menyemangatinya. Jika ada al akh yang kurang sabar, akan ada al akh lain yang mengingatkannya. Jika ada al akh yang berjalan lambat tak seirama langkahnya, akan ada al akh lain yang menggamit lengannya dengan lembut namun cukup kokoh untuk meluruskan dan menyeiramakan langkahnya.
- Katsrotul ‘aqobat. Banyak rintangan. Tidak cukup dengan jalan yang amat panjang dan melelahkan, di jalan da’wah tersebut juga terdapat berbagai macam rintangan dan jebakan. Baik itu rintangan dan jebakan yang manis maupun yang pahit. Yang manis di antaranya godaan harta benda, tahta, dan syahwat terhadap lawan jenis. Sementara yang pahit di antaranya penyiksaan fisik, intimidasi psikis, pemboikotan sosial, bahkan pembunuhan. Segala macam rintangan itu bisa diatasi dengan saling melindungi sesama al akh.
- Qillatur rijaal. Sedikitnya sumber daya manusia. Amat sedikit manusia (rijaal, secara bahasa berarti lelaki, tapi dalam konteks ini, secara maknawi berarti manusia yang ideologis, baik itu pria maupun wanita) yang bersedia bersusah payah menempuh jalan ini. Kalaupun di awal perjalanan ada begitu banyak peminatnya, tapi seiring waktu akan ada tamhish ilahiyah. Di tengah jalan ada yang tidak sabar dalam menempuh panjangnya jalan, ada pula yang tergoda dan terlena oleh syahwat, dan ada pula yang mati muda. Sehingga yang melanjutkan perjalanan telah berkurang jumlahnya. Akan tetapi dengan jaringan jama’ah yang solid dan terporgram rapi, maka akan ada iron stock baru yang siap menggantikan generasi yang sudah berlalu.
Sehingga jelaslah bagi kita akan pentingnya pesan dalam
Dinamakan RT karena pembinaan adalah hal asasi yang tidak bisa ditinggalkan atau dianggap sekadarnya saja. Sebuah jama’ah yang mengabaikan aspek pembinaan ini, cepat atau lambat, akan mengalami jumud bahkan hancur. Aspek pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang menyeluruh dan menyentuh semua aspek kepribadian manusia serta terprogram secara rapi dan jelas. Tanpa adanya pembinaan yang benar maka tidak akan dihasilkan rijaal yang tangguh. Padahal rijaal yang tangguh ini merupakan tulang punggung kokoh bagi tubuh jama’ah. RT mencakup semua aspek tadi dan memiliki arahan yang jelas, tanpa bertele-tele. Itulah mengapa RT penting bagi setiap kader da’wah.
Rukun bai’ah dan Landasan Pembinaan
Bai’ah bermakna janji setia. Setiap muslim wajib hukumnya berbai’ah. Syahadatain adalah sebuah bentuk bai’ah yang menjadi rukun Islam yang pertama. Tanpa syahadatain, maka tidak sah keislaman seseorang. Sebaliknya, dengan syahadatain yang diucapkan, dipahami dan diwujudkan dengan baik dan benar, akan menghasilkan muslim yang mu’min. Oleh karena itulah setiap muslim wajib berbai’ah. Bahkan bai’ah ini diulang-ulang dalam sholat. Selain itu, dalam sejarah kita juga mengenal ada bai’atul ‘aqobah, bai’atur ridhwan, bai’at kepada khalifah, dan lain-lain. Jadi bai’ah bukanlah merupakan hal yang asing dalam kehidupan muslim.
Perjuangan menegakkan kebenaran dan membasmi kemungkaran membutuhkan kader-kader yang istiqamah. Selain itu diperlukan juga barisan yang mantap. Maka dibutuhkanlah bai’ah sebagai salah satu unsur pengokohnya. Bai’ah yang benar dalam konteks perjuangan ini akan memberikan jaminan kader-kader yang setia dengan manhaj, bersabar dalam berjuang, serta rela berkorban. Hal ini sangat penting dalam jama’ah da’wah.
Bai’ah yang dimaksudkan dalam jama’ah da’wah bukanlah bai’ah buta, yaitu bai’ah yang asal-asalan di mana sesiapapun bisa berbai’ah dalam perjuangan ini. Imam syahid Hassan Al Banna memberikan arahan yang jelas dalam urusan bai’ah ini di RT, sebab bai’ah bukan perkara sembarangan. Beliau menuliskan sepuluh landasan/rukun dari bai’ah yang setiap kader da’wah wajib menghafalkannya (sesuai urutannya), yaitu:
- Al Fahmu (pemahaman)
- Al Ikhlash (keikhlasan)
- Al ‘Amal (perbuatan/aktivitas)
- Al Jihad (jihad)
- At Tadh-hiyah (pengorbanan)
- Ath Tho’at (ketaatan)
- Ats Tsabat (keteguhan)
- At Tajarrud (totalitas/kemurnian)
- Al Ukhuwah (persaudaraan)
- Ats Tsiqah (kepercayaan)
Bai’ah ditegakkan di atas kesepuluh dasar tersebut. Salah satu saja rukun tersebut tidak terpenuhi, maka bai’ah akan lemah dan mudah goyah, bahkan bisa menjadi batal.
Arkanul bai’ah ini dijelaskan satu persatu maksud dan tujuannya oleh Imam syahid Hassan Al Banna dalam RT agar menjadi suatu gambaran yang jelas dan bisa dipahami. Arkanul bai’ah merupakan bagian pertama dalam RT. Ini merupakan landasan pembinaan pribadi kader da’wah. Kader yang terbina berbasiskan hal inilah yang layak berbai’ah untuk memikul beban perjuangan.
Al Fahmu dituliskan oleh Imam syahid Hassan Al Banna sebagai rukun pertama. Jika kita melihat tradisi penulisan kitab-kitab hadits atau fiqih, maka yang pertama kali diulas oleh para ulama adalah mengenai Al Ikhlash. Namun Imam syahid Hassan Al Banna justru menempatkan Al Fahmu sebagai rukun pertama.
Allah SWT berfirman, “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar: 9)
Dari ayat di atas kiranya cukup jelas mengapa diambil Al Fahmu sebagai rukun pertama. Perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang bisa bergerak dengan baik dan benar. Ini membutuhkan wawasan. Orang-orang yang berjuang tanpa wawasan akan mudah dihancurkan atau mudah melenceng dari garis perjuangannya. Suatu amal ibadah yang dikerjakan asal-asalan atau tidak sesuai kaidahnya (dikarenakan si pengamalnya tidak memiliki pemahaman akan hal itu) akan tertolak, seikhlas apapun hatinya.
Al Fahmu (setidaknya) akan memastikan hal-hal berikut:
- Tetap pada jalur yang benar
- Tidak tertipu oleh berbagai godaan
- Cepat mengambil keputusan
- Luwes dalam bergerak
- Bijaksana
Imam syahid Hassan Al Banna, kemudian menetapkan sbuah standard pemahaman bagi kader da’wah. Inilah yang dikenal sebagai ushul ‘isyrin atau dua puluh prinsip Islam. Ini adalah pemahaman paling mendasar bagi setiap kader da’wah. Keduapuluh prinsip Islam ini adalah hal-hal yang menjadi kesepakatan seluruh ummat muslim di manapun mereka berada dan kapanpun masa mereka. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Ini bukan perkara furu yang padanya terbuka ruang interpretasi yang amat luas, sehingga menimbulkan keberagaman pemikiran. Tapi ushul isyrin tidak demikian. Ia merupakan nilai-nilai dasar dari Islam.
Dengan memahami ushul isyrin, maka akan muncul kader da’wah yang bijak dalam berda’wah di tengah ummat, karena tidak mengutamakan urusan furu’ dan sebaliknya justru mengutamakan hal-hal prinsip, di mana semua muslim sepakat dalam hal ini. Kader-kader da’wah yang memahami ushul isyrin diharapkan bisa menjadi agen perekat ukhuwah ummat muslim, di mana di masa sekarang ini issu perpecahan di tubuh ummat muslim masih menghangat. Da’wah ikhwan adalah da’wah yang menyatukan. Basisnya adalah ushul isyrin.
Al Ikhlash akan mencegah seorang al akh dari niat selain lillahi ta’ala. Ikhlash akan menjadikan langkah ringan. Ikhlash akan mengikis penyakit hati berupa riya’ dan sum’ah. Ikhlash juga pada akhirnya akan menghapuskan penyakit al wahn. Barang siapa yang punya niatan lain selain ridho dan rahmat Allah SWT, seperti ingin jabatan dan harta benda, niscaya akan segera mengalami tasaquth, baik cepat atau lambat.
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhari - Muslim).
Al Amal mendapat perhatian khusus oleh Imam syahid Hassan Al Banna. Di dalam RT beliau menuliskan marotibul ‘amal. Bahkan beliau juga menulis sebuah risalah tersendiri yaitu “Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun”. Jama’ah ini dibentuk bukan untuk sekadar adu gagasan dan wacana, namun jauh lebih penting adalah berbuat nyata. Karena inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (At Taubah 105)
Namun ‘amal yang dimaksud bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban. Tapi amal yang terarah dan konsisten. Maka itu beliau menyusun marotibul ‘amal yang menjadi prioritas program kerja gerakan. Dengan marotibul ‘amal ini akan menjadi jelas apa yang harus dikerjakan, siapa saja yang bisa terlibat, apa saja yang perlu dipersiapkan, dan bagaimana mewujudkannya.
Al Jihad dimasukkan ke dalam rukun bai’ah karena jihad inilah yang boleh dikatakan sebagai unsur yang menggerakkan. Tanpa adanya jihad, niscaya tidak akan ada gerakan ataupun gebrakan. Jihad pula yang akan membentengi perjuangan ini dari berbagai fitnah. Jihad juga akan menumbuhkan dan menjaga harga diri ummat. Ditambahkan pula oleh Imam syahid Hassan Al Banna, bahwa jihad ini adalah kewajiban yang telah termaktub gamblang di Al Qur-an dan As Sunnah. Sehingga tidak boleh lagi ada pertentangan mengenai hal ini.
At Tadh-hiyah adalah modal inti untuk mencapai tujuan. Tanpa tadh-hiyah, maka pencapaian tujuan hanyalah angan-angan belaka. Tadh-hiyah akan menghapuskan perilaku santai dan berleha-leha dalam perjuangan. Imam syahid Hassan Al Banna bahkan menganggap perilaku santai-santai ini sebagai sebuah dosa dalam gerakan da’wah. Da’wah Islam ini, dengan semua pencapaiannya, masih berlanjut hingga saat ini adalah karena pengorbanan para pendahulunya.
Ath Tho’at memegang peranan penting dalam jama’ah. Taat memberikan kepastian setidaknya dalam hal-hal berikut:
- Terlaksananya perintah
- Kesatuan langkah
- Kokohnya barisan
Terkait kadar ketaatan dan arti pentingnya bagi gerakan, Imam syahid Hassan Al Banna memberikan catatan mengenai tahapan da’wah yaitu:
- Ta’rif (pengenalan). Di fase ini taat belum bersifat mutlak. Masih berupa cukup pada rasa hormat dan cinta pada sistem dan prinsip umum jama’ah.
- Takwin (pembentukan). Di fase ini taat bersifat totalitas, tanpa ragu dan bimbang lagi. Hal ini dikarenakan sistem da’wah telah bersifat tasawauf murni untuk urusan ruhiyah dan militer murni dalam urusan operasional.
- Tanfizh (pelaksanaan). Di fase ini ketaatan mencapai puncaknya. Karena di fase ini da’wah adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk mencapai tujuan, dan kesiapan menanggung cobaan yang berat.
Ats Tsabat merupakan nilai yang penting dalam gerakan. Setiap al akh diminta untuk terus menerus bekerja menjalankan program-program da’wah hingga akhir hayatnya. Tidak mundur sedikitpun dan tidak pula tergoda oleh godaan duniawi. Tsabat ini merupakan pengejawantahan dari sifat sabar. Menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi sabar ini merupakan sebuah prinsip dasar dalam gerakan.
At Tajarrud juga merupakan hal penting. Ini merupakan rukun yang akan mengarahkan pada militansi. Tajarrud akan mengembalikan setiap individu kader pada fikrah yang satu dan tidak bercampur-campur. Apabila suatu fikrah telah tercampur-campur, maka bisa dipastikan tidak akan ada pihak yang akan berpegang teguh dan memperjuangkannya, karena fikrah tersebut meragukan. Fikrah yang ragu-ragu atau tidak kokoh akan menghasilkan kader yang ragu-ragu pula. Maka itu, Imam syahid Hassan Al Banna meminta setiap akh untuk membersihkan hati dan fikirannya dari fikrah lain selain fikrah yang sesuai dengan Al Qur-an dan As Sunnah.
Al Ukhuwah sangat diperlukan karena da’wah ini diusung secara berjama’ah oleh individu-individu kader yang diikat oleh kesatuan aqidah. Ukhuwah yang dimaksudkan bukanlah berlandaskan pada materi atau slogan-slogan kosong. Namun berlandaskan pada aqidah islamiyah. Imam syahid Hassan Al Banna bahkan menegaskan bahwa ukhuwah merupakan salah satu realisasi keimanan. Iman dan ukhuwah ibarat sekeping mata uang logam. Di mana ada keimanan, maka di baliknya ada ukhuwah. Sebaliknya beliau mencela perpecahan, karena perpecahan adalah saudara kandung kekufuran dan akan menyebabkan hancurnya bangunan jama’ah. Dengan adanya ukhuwah ini maka akan muncul rasa senasib sepenanggungan serta bahu membahu dalam memperjuangkan da’wah. Unsur-unsur penting dalam ukhuwah di antaranya:
- Taushiyah dalam kasih sayang, kebenaran, dan kesabaran
- Ta’awun dalam kebaikan dan ketaqwaan
- Ruhama bainahum
- Saling mengutamakan saudaranya
Ats Tsiqah melengkapi rangkaian rukun bai’ah ini. Tsiqah erat kaitannya dengan urusan kepemimpinan. Hubungan tentara dan komandan akan langgeng dan mulus dengan adanya tsiqah ini. Jalur komando ini penting, karena dalam da’wah pada hakikatnya adalah peperangan antara haq dan bathil. Diperlukan kedisiplinan yang tinggi. Disiplin ini muncul dari rasa tsiqah tadi. Imam syahid Hassan Al Banna menuliskan beberapa pertanyaan sebagai syarat dari tsiqah. Di antaranya:
- Apakah sejak dulu ia mengenal pemimpinnya dan telah mempelajari riwayatnya?
- Apakah ia percaya pada kapsitas dan keikhlasannya?
- Apakah ia siap menganggap semua instruksinya harus dilaksanakan tanpa reserve, tanp aragu, tanpa dikurangi atau ditambahi, dengan dibarengi keberanian memberi nasehat dan peringatan untuk tujuan yang benar?
- Apakah ia siap menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar dalam hal terjadi pertentangan dalam urusan ijitihadiyah yang tidak ada teks yang tegas dalam syariah?
- Apakah ia siap meletakkan seluruh aktivitasnya dalam kendali da’wah? Apakah pemimpin berhak untuk mentarjih antara maslahat dirinya dan maslahat da’wah secara umum?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan menentukan kadar kepercayaan dan ketaatan kepada pemimpin.
Implementasi Rukun Bai’ah
Sepuluh rukun bai’ah adalah landasan bagi pembentukan karakter kader da’wah. Imam syahid Hassan Al Banna kemudian juga menyusun teknis operasional rukun bai’ah itu untuks etiap individu kader da’wah. Teknis itu disebut sebagai wajibatul akh (kewajiban seorang kader) yang berisi 38 buah kewajiban indvidu yang mencakup semua aspek dalam kehidupannya. Wajibatul akh ini adalah bukti bahwa seseorang telah benar dalam berbai’ah. Dan ia akan menjelma menjadi seorang kader da’wah yang bisa diandalkan.
Wallahu a’lam bishshowab
Tomy Saleh. Kalibata. 5 Juni 2009.
Menyikapi Pihak Lain
Kekayaan Kita: Rizqi Atau Istidraj?
Belum lama ini sebuah majalah terkemuka dari Amerika Serikat, Forbes, merilis daftar orang paling kaya se-Indonesia.
Jumlah kekayaan mereka amat fantastis. Mereka memiliki gurita bisnis raksasa yang memungkinkan mereka memiliki pundi-pundi uang sebegitu banyaknya. Bisnis mereka meliputi industri rokok, properti, perbankan, telekomunikasi, konstruksi, manufaktur, consumer good, dan lain-lain. Rasanya, kekayaan mereka itu tidak akan habis dinikmati sampai tujuh turunan.
Namun dari daftar tersebut, sangat sedikit yang muslim. Malah ada pula nama-nama yang pernah punya (sampai sekarang?) citra negatif di mata masyarakat
Memiliki harta (yang banyak) tentu bukan perkara yang dilarang dalam agama. Ajaran agama tidak pernah concern pada jumlah kekayaan, tapi lebih pada proses mendapatkan kekayaan tersebut dan bagaimana kekayaan itu dipergunakan. Tidak ada ayat atau hadits yang menyatakan bahwa kekayaan yang boleh dimiliki seseorang maksimal sejuta dinar, misalnya. Yang ada adalah ajaran jika memiliki kekayaan sekian dinar, maka zakatnya sekian persen. Tidak ada seruan dari Al Qur-an dan As Sunnah untuk membatasi bentuk harta kekayaan yang boleh dimiliki (misalnya properti saja atau pertanian saja atau emas saja atau peternakan saja). Yang senantiasa diserukan adalah agar kita mencari harta kekayaan yang halal dengan jujur dan amanah.
Derasnya arus materialisme dan bergesernya nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat, turut mempengaruhi cara pandang dalam menilai seseorang. Kemuliaan dan kehormatan kini cenderung dinilai atau diukur dari seberapa banyak harta yang dikuasai, entah diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Berkawan dan bersosialisasi dengan kaum the haves dirasakan lebih berharga dan lebih penting dibanding dengan kaum miskin. Pola hidup jetset gencar digaungkan oleh media. Kehidupan borjuis terus menerus dimasukkan ke alam pikiran masyarakat. Khayalan-khayalan kemewahan hidup dijadikan opini umum (bukan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar ikhlas dan pekerja keras jujur). Allah SWT berfirman dalam
“Perjuangan” untuk mewujudkan pemikiran materialisme, khayalan-khayalan borjuis, dan impian kemewahan hidup ke dalam kenyataan, menjadi pemandangan sehari-hari. Sebahagian sudah “berhasil”, sebahagian lainnya masih terus berjuang. Demi mengejar status sosial, banyak orang rela melakukan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi rambu dan petunjuk penting dalam ‘perjuangannya’ itu. Halal-haram tidak lagi penting. Yang paling penting adalah seberapa cepat dan seberapa banyak kekayaan itu bisa dikuasai. Ini bisa dimaklumi karena motivasi perjuangannya bukanlah untuk mencari ridho Allah SWT.
Muncullah di permukaan bumi ini, orang-orang yang kaya raya. Hartanya berlimpah, kehidupannya mewah. Kekayaannya mengundang decak,
Bagaimana bisa orang-orang yang tidak mau dekat dengan Allah justru dikaruniai “rizqi” yang berlimpah ruah dan memiliki pengaruh luas? Bagaimana dengan janji Allah bahwa dunia ini diwariskan kepada kaum yang beriman? Bagaimana bisa mereka tersenyum penuh kemenangan dan terus saja melaju dalam kemaksiatannya yang disiarkan setiap hari untuk disimak oleh berjuta-juta rakyat? Bagaimana pula dengan orang-orang yang rajin sholat, rutin mengaji, gemar menolong orang, tak absen di forum-forum pengajian, tapi “rizqi” mereka amat seret?
Tidak ada yang perlu dirisaukan. Mari kita lihat firman Allah SWT dalam
Sesungguhnya “karunia” mereka itu tidak pantas disebut sebagai rizqi. Allah telah memberikan terminologi khusus untuk itu. Allah berfirman dalam
Rasulullah SAW menegaskan lagi dalam sabdanya, “Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba apa yang diinginkannya, padahal hamba itu selalu berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuknya. (lalu Rasulullah SAW membaca
Bagaimana dengan “nasib” orang-orang yang beriman? Allah SWT telah memberikan ‘
Namun, apakah ini berarti kaum beriman tidak boleh dan tidak bisa mendapatkan kenikmatan dan kejayaan di dunia dalam rangka menebar rahmatNya? Allah SWT berfirman dalam
Wallahu a’lam bisshawab.
Tomy Saleh. Kalibata. 22 Desember 2010. 10:30WIB
Ular Hitam Bertelur Emas: Waspadalah!
Ocehan Asal Goblek Tentang Pemimpin
Asal goblek adalah frase Betawi yang berarti asal bicara, ceplas-ceplos, tidak pakai dipikir-pikir dulu, ucapan tanpa beban, dan pengertian-pengertian lain yang sejenis dengan itu. Ocehan asal goblek kali ini adalah ungkapan sok tahu yang berangkat dari kesebalan terhadap sikap sebahagian orang yang diberi amanah sebagai pemimpin (di manapun). Ocehan-ocehan itu termuat sebagai status di jejaring sosial facebook. Inilah dia ocehan asal goblek itu:
Kaum cerdik cendekia yang melegitimasi kebathilan, merancang kabut penutup kebenaran dan keadilan, serta menjilat telapak kaki penguasa zalim, demi keamanan, posisi 'terhormat', dan jaminan atas penguasaan secuil harta, adalah layak kita anugerahi "Bal'am Award". (29 November 2010) -note: Bal'am adalah nama ulama pendukung Fir'aun.
Menjadi ulama tidak cukup dengan sekadar well educated. Perlu juga jujur, kelincahan, kejelian, keberanian, dan ketegasan. Kalau tidak seperti itu, ulama-ulama pakar syari'ah itu sangat berpotensi menjadi bal'am. (30 November 2010)
Meminta khalayak untuk tsiqah (percaya) dan tho'at, tapi tidak menampakkan tanda-tanda kelayakan untuk di-tsiqoh-i dan di-tho'at-i adalah sebuah pembodohan, walau berbalut retorika muluk atau bertameng kebijakan tak bijak yg dipaksakan sekalipun. (2 Desember 2010)
Pejabat (eksekutif, legislatif, judikatif) yang semakin kaya setiap waktu (menumpuk kekayaan dikarenakan jabatannya itu atau dengan kata lain: KKN), sulit diharapkan memiliki frekuensi yang sama dengan rakyat. Wajar jika kebijakan atau ucapan atau tindakan mereka tidak pro kepada rakyat. Tidakconnect dengan rakyat. Mereka lebih sering keseleo lidah. (2 Desember 2010)
Wibawa dan kehormatan pemimpin, sejatinya dibangun dengan kejujuran, rendah hati, terbuka terhadap masukan, dan dekat dengan konstituen. Bukan dengan tipu-tipu, memperalat konstituen untuk kepentingan pribadi, dan sibuk melengkapi diri dengan atribut kemewahan. (3 Desember 2010)
Pemimpin yang makin lama dalam kepemimpinannya malah makin rakus harta benda, gila hormat, anti nasehat, memperluas permusuhan dan kebencian, dan semakin otoriter, adalah pemimpin yang tidak bijak.
SANG PENCERAH adalah pemimpin yang membimbing ummat ke arah kebaikan. SANG PENCURHAT adalah pemimpin yang hobi mengeluh ke media
Pemimpin seharusnya jangan cuma sibuk bangun jaringan dan visi bersama (yang itupun tak jarang cukup rawan dari interest pribadinya), tapi juga amat penting untuk membangun dan memperkokoh ikatan hati dengan rakyatnya. Ikatan hati ini jelas tidak bisa dibangun dengan uang dan tipu-tipu retorika. (4 Desember 2010)
Pemimpin tidak mungkin mengakomodir semua keinginan tapi juga jangan abaikan semua suara. (5 Desember 2010)
Yang mengerikan dari pemimpin yang pintar dan berwawasan luas tapi licik dan tidak jujur adalah kelihaian melegitimasi atau membenarkan kebiasaanya (terutama yang buruk-buruk) atau kesalahannya dengan berjuta dalil logika yang amat masuk akal
Pemimpin adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, tapi kejujuran dan keikhlasan hati pemimpin tidak pernah salah. Semoga kita bisa jadi pemimpin yang jujur dan ikhlas. (7 Desember 2010)
Kepemimpinan yang zalim bisa langgeng tegak berdiri karena penyebab utamanya adalah
Pemimpin itu berasal dari rakyatnya. Tak elok ia bermewah-mewah jika ia berasal dari rakyat yang sederhana. Makin biadab jika ia melegitimasi kemewahannya dengan banding-bandingkan kemewahan pemimpin di negeri-negeri yang maju dan makmur padahal ia belum memajukan dan memakmurkan rakyat dan negerinya. (7 Desember 2010)
Pemimpin licik berupaya (memperdaya?) mengikat hati
Pemimpin yang baik dan benar akan menyerukan hal-hal yang baik dan benar dengan cara yang baik dan benar ke konstituennya. Dia tidak sibuk berdalil logika untuk mengajak publik memaklumi pengumbaran hawa nafsunya. Misalnya: dia keranjingan mengoleksi kemewahan (padahal konstituennya kismin & madesu), maka dia buat dalil-dalil agar publik menjadi maklum bahkan mengikuti jejaknya. (8 Desember 2010) -note: kismin = miskin; madesu = masa depan suram
Keagungan pemimpin tidak dibentuk dari atributisa
Tak jarang kita dapati sosok pemimpin yang merasa dirinya "Umar ibn Abdul Aziz", padahal fikiran, ucapan, dan tindakanny
Pemimpin palsu itu niatnya palsu, omongannya palsu, idenya palsu, air matanya palsu, kerjaannya palsu, jargonnya palsu, marahnya palsu, senyumnya palsu, seruannya palsu, dan tawadhu'-nya palsu. (8 Desember 2010)
Pemimpin yang tidak mengakar di jiwa rakyatnya ibarat rumah berdinding gedek tanpa fondasi pula. (8 Desember 2010)
Pemimpin bijak adalah yang mampu memperkecil jumlah "musuh" dengan jalan merangkul mereka jadi kawan. Pemimpin yang tidak bijak adalah yang menambah rasa permusuhan terhadap dirinya. (8 Desember 2010)
Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh pemimpin kontempore
Pengikut yang jujur dan ikhlas tapi bodoh dan tidak kritis, akan mudah diperdaya oleh pemimpin yang pintar tapi culas. (9 Desember 2010)
Pemimpin yang bijak dan baik akan mencerdask
Pemimpin boneka (planted leader) adalah pemimpin yang berhasil menguasai lembaga kepemimpinannya tapi gagal mengakar di hati konstituen atau rakyatnya
Pemimpin bijak senang dan membuka diri terhadap kritik konstruktif. Pemimpin zalim senang jika pengikutnya menjadi kambing congek dan terbuka terhadap semua puji-pujian, walau palsu sekalipun.(13 Desember 2010)
Jadi pemimpin itu berat juga. Di samping dia harus menjalanka
Kami tidak iri dengan hartamu, tuan. Tapi kenapa tuan bisa jadi kaya raya setelah jadi pemimpin kami? Kekayaan tuan melampaui gaji tuan sebagai pemimpin. Padahal sebelum ini kami tahu bagaimana keadaan tuan. Tuan bukanlah saudagar. Bukan pula anak atau menantu saudagar atau bangsawan kaya. Apa kini tuan juga jadi saudagar? Apa yang tuan perdagangk
Pemimpin bijak akan menyesuaik
Pemimpin baik tidak malu akui salah jika memang salah dan lekas kembali pada kebenaran. Pemimpin 'ndableg tidak malu-malu untuk memaksakan pembenaran atas kesalahanny
Konstituen yang diikat dengan uang, loyalitasnya hanya sebatas supply uang si pemimpin ke mereka. Tak ada uang, konstituen melayang. Tapi jika diikat dengan sentuhan hati dan nilai-nilai, loyalitasnya akan mampu bertahan sampai maut datang. (20 Desember 2010)
Pada masyarakat doktrinal,
Tomy Saleh. Kalibata. 29 Desember 2010. 08:00WIB