Tampilkan postingan dengan label Sok Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sok Serius. Tampilkan semua postingan

Tantangan Gerakan #IndonesiaTanpaJIL : Sebuah Renungan & Saran


Gerakan #IndonesiaTanpaJIL (sering disingkat #ITJ) baru seumur jagung. Sejak "dideklarasikan" sekitar Februari atau Maret 2012 lalu (melalui media sosial twitter, dengan hashtag #IndonesiaTanpaJIL & akun @TanpaJIL), gerakan ini sudah mulai menampakkan geliatnya. Di berbagai daerah, turut pula "dideklarasikan" gerakan ini. Depok, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, dan lain-lain. Di dalamnya berhimpun para aktivis media sosial (twitter) yang memiliki sikap yang sama terhadap JIL (Jaringan Islam Liberal): menolak. Para aktivis di #ITJ terdiri dari beragam latar belakang. Ada mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, akademisi, aktivis parpol, aktivis berbagai ormas & gerakan Islam, dan lain-lain. Yang kerap dilakukan #ITJ (di berbagai daerah) adalah aksi tebar flyer/brosur/bulettin yang berisi berbagai ke-nyeleneh-an JIL dan juga mengadakan kajian/diskusi mengenai pemikiran yang diusung-diasong JIL dan counter attack-nya. Untuk melengkapi aktivitasnya, gerakan #ITJ juga membuat website: http://www.indonesiatanpajil.com.

Seiring waktu yang berjalan, tentu saja gerakan #ITJ (akan, sudah, & sedang) menghadapi berbagai tantangan. Ini sunnatullah dalam berjuang. Tidak mungkin sebuah perjuangan akan berjalan mulus begitu saja. Terlebih lagi jika ini perjuangan yang menyangkut aqidah Islam. Dengan tantangan ini, akan terlihat sejauh mana kekuatan, keistiqomahan, serta kecerdasan gerakan #ITJ. Semua pegiat #ITJ, mau tidak mau, harus bekerjasama menjawab tantangan. Apa saja tantangan yang dihadapi? Setidaknya ada dua:

1. Pemerataan & Peningkatan Wawasan
Gerakan yang berlandaskan pada emosi (amarah) belaka, hanya akan berujung pada keletihan. Amarah itu menguras energi. Sebaliknya, gerakan yang berlandaskan pada visi, misi, wacana, dan program kerja yang jelas, insya Allah akan langgeng, ajeg, dan bisa mencapai tujuan-tujuannya. Dalam wadah #ITJ, tidak semua pegiatnya memiliki wawasan yang sama. Ada yang memang spesialis pemikiran Islam, ada pula yang kurang banyak membaca. Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan bahwa kita perlu tahu kejahiliyahan agar bisa menghindari dan melawannya. Pemikiran JIL sudah disepakati oleh pegiat-pegiat #ITJ sebagai pemikiran yang salah arah (sesat). Tapi seperti apa bentuknya, apa konsideran yang dipakai JIL, bagaimana trik mereka memainkan wacananya, serta bagaimana menemukan titik lemah dan 'meruntuhkan' argumen JIL, belum tentu semua pegiat #ITJ tahu akan hal tersebut. Tentu saja ini sangat rentan. Alih-alih mau menegakkan dalil dan melawan pemikiran JIL, justru boleh jadi malah akan terjebak dalam permainan wacana JIL. Ini berbahaya. Bisa melemahkan perjuangan. Saran: rekan-rekan pegiat JIL yang Allah SWT karuniakan wawasan yang lebih luas mengenai pemikiran Islam, jangan ragu-ragu untuk berbagi wawasan ke sesama pegiat #ITJ lainnya. Paling minimal sekadar kultwit. Lebih sip lagi menulis di website #ITJ atau blog pribadi yang di-share link-nya. Paling afdhol adalah road show ke berbagai 'cabang' #ITJ untuk kopdar sambil mengadakan kajian ilmiah. Hafidz Ary (@hafidz_ary) dan Akmal Sjafril (@malakmalakmal) adalah contoh pegiat #ITJ yang cukup rajin melakukan hal-hal di atas. Setidaknya ini yang diketahui oleh penulis. Tentu saja masih banyak pegiat-pegiat #ITJ yang melakukan hal serupa. Dengan adanya pemerataan dan peningkatan wawasan ini, tentunya akan semakin menambah keyakinan dan semangat dalam perjuangan di #ITJ.

2. Mengelola Perbedaan
Sebagaimana telah disinggung di awal, di dalam #ITJ berhimpun beragam orang. Rambut sama hitam, tapi isi kepala (pemikiran) berbeda-beda. Ditambah lagi kenyataan bahwa di #ITJ tidak ada struktur organisasi. #ITJ bisa dibilang cuma berwujud 'forum' atau 'paguyuban'. Yang ada cuma koordinator yang sebenarnya lebih berfungsi mengkoordinir kegiatan #ITJ dan sebagai pusat informasi. Setiap pegiat #ITJ berhak untuk memberikan sumbangsih bagi kelangsungan gerakan #ITJ, sesuai dengan kemampuan dan latar belakangnya. Salah seorang pegiat #ITJ dengan akun @fikreatif pernah mengatakan bahwa perbedaan latar belakang harokah (pergerakan) masing-masing pegiat #ITJ, cukup beresiko menghadirkan friksi di internal #ITJ. Belakangan ini hal itu cukup terbukti. Misalnya ada yang merasa dan menganggap bahwa #ITJ dijadikan sarana kampanye parpol tertentu dan hendak menarik #ITJ ke ranah politik praktis. #ITJ hendak dijadikan salah satu kendaraan politik. Atau ada pula yang merasa gerakan #ITJ ini gerakan tipu-tipu belaka. Teriak-teriak anti JIL tapi sebenarnya sami mawon dengan JIL, karena pegiat-pegiatnya tidak menolak demokrasi (yang bagi sebagian orang dianggap sistem kafir dan haram hukumnya). Demokrasi dianggap bagian dari liberalisme dan sekulerisme yang selama ini menjadi ciri khas JIL. Hal-hal tersebut menimbulkan friksi yang cukup tajam. Perdebatan panas berlangsung berhari-hari di ranah twitter. Twitwar (istilah untuk menyebut perdebatan di twitter) membahana. Mulai dari lontar argumen, hingga lempar ejekan. Apa akibatnya? Pegiat #ITJ sibuk saling "menikam" sesamanya. Lupa pada tujuan semula gerakan ini dicetuskan. Terus terang, penulis adalah salah satu yang terlibat twitwar tersebut (dengan "faksi" anti demokrasi). Namun setelah merenung dan diskusi, akhirnya penulis memutuskan untuk meninggalkan dunia twitter (deactivate account). Semata-mata demi menjaga mulut dan hati (bukan soal menang-kalah argumen). 'toh perjuangan #ITJ tidak hanya lewat twitter. Bisa lewat cara lain, seperti blog, misalnya. Saran: hendaklah setiap pegiat #ITJ fokus pada cita-cita awal gerakan: melawan pemikiran JIL. Saling mengingatkan akan hal ini. Di wadah #ITJ, lupakan 'ego' harokah (latar belakang gerakan) masing-masing (sebagaimana saran @fikreatif). Di sini ada common enemy: JIL. Jangan acungkan moncong senapan ke sesama pegiat #ITJ. Arahkan semua senjata ke JIL. Merekalah sasaran tembaknya. Lebih bagus lagi bila bisa mengadakan kopdar secara berkala. Silaturrahim bisa mencegah friksi.

Semoga pegiat-pegiat #ITJ bisa lebih bijak dalam menghadapi tantangan ini. Sehingga tujuan gerakan #ITJ bisa tercapai. Semoga Allah senantiasa memberkahi kita semua.

Tomy Saleh. Kalibata. 4 Juli 2012

Risalah Ta’alim sebagai petunjuk taktis pembinaan kader da’wah

Pendahuluan

Risalah Ta’alim (RT) merupakan salah satu risalah Imam syahid Hassan Al Banna yang termuat dalam buku Majmu’atu Rosa-il. RT ini boleh dikatakan memiliki keistimewaan karena RT berisi petunjuk taktis dalam hal membina kader-kader da’wah. Secara umum isi RT dibagi ke dalam 2 (dua) bagian yaitu: rukun bai’ah dan kewajiban seorang kader. Rukun bai’ah merupakan landasan ideologis dari RT sedangkan kewajiban seorang kader merupakan implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam rukun bai’ah tersebut.

Hendaklah RT ini dibaca dengan seksama, ditelaah dengan serius, dan diimplementasikan dengan konsisten. Ini menjadi bekalan kader da’wah dalam membentuk aqidah, akhlaq, tsaqofah, serta militansi. Hal-hal inilah yang akan menjadi basis kepribadian kader yang kokoh dan tahan banting dalam menjalankan amanah risalah da’wah.

Mengapa RT?

Allah SWT berfirman, “(103) Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (104) Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (105) Dan janganlah kamu menyerupai orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali Imran: 103-105)

Ayat-ayat di atas merupakan petunjuk yang jelas dari Allah SWT mengenai pentingnya soliditas, pentingnya aktivitas da’wah secara berjama’ah, dan tercelanya perpecahan. Inilah nilai-nilai penting bagi da’wah kita. Setiap person yang terlibat dalam da’wah ini harus memahami hal ini untuk kemudian direalisasikan. Mengapa da’wah harus dilakukan secara berjama’ah dan membutuhkan soliditas internal jama’ah tersebut? Jawabnya adalah karena da’wah memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Thuulut thariq. Jalannya amat panjang dan melelahkan dalam menempuhnya. Dibutuhkan kebersamaan dalam menapaki jalan yang panjang. Kebersamaan yang saling menguatkan dalam kasih sayang, kebenaran, dan kesabaran. Tatkala ada al akh yang merasakan keletihan, akan ada al akh lain yang menyemangatinya. Jika ada al akh yang kurang sabar, akan ada al akh lain yang mengingatkannya. Jika ada al akh yang berjalan lambat tak seirama langkahnya, akan ada al akh lain yang menggamit lengannya dengan lembut namun cukup kokoh untuk meluruskan dan menyeiramakan langkahnya.
  1. Katsrotul ‘aqobat. Banyak rintangan. Tidak cukup dengan jalan yang amat panjang dan melelahkan, di jalan da’wah tersebut juga terdapat berbagai macam rintangan dan jebakan. Baik itu rintangan dan jebakan yang manis maupun yang pahit. Yang manis di antaranya godaan harta benda, tahta, dan syahwat terhadap lawan jenis. Sementara yang pahit di antaranya penyiksaan fisik, intimidasi psikis, pemboikotan sosial, bahkan pembunuhan. Segala macam rintangan itu bisa diatasi dengan saling melindungi sesama al akh.
  1. Qillatur rijaal. Sedikitnya sumber daya manusia. Amat sedikit manusia (rijaal, secara bahasa berarti lelaki, tapi dalam konteks ini, secara maknawi berarti manusia yang ideologis, baik itu pria maupun wanita) yang bersedia bersusah payah menempuh jalan ini. Kalaupun di awal perjalanan ada begitu banyak peminatnya, tapi seiring waktu akan ada tamhish ilahiyah. Di tengah jalan ada yang tidak sabar dalam menempuh panjangnya jalan, ada pula yang tergoda dan terlena oleh syahwat, dan ada pula yang mati muda. Sehingga yang melanjutkan perjalanan telah berkurang jumlahnya. Akan tetapi dengan jaringan jama’ah yang solid dan terporgram rapi, maka akan ada iron stock baru yang siap menggantikan generasi yang sudah berlalu.

Sehingga jelaslah bagi kita akan pentingnya pesan dalam surat Ali Imran tersebut di atas. Yang kini menjadi perhatian penting adalah bagaimana menyiapkan sebuah barisan rijaal yang akan mengusung amanah ini. Da’wah adalah pekerjaan serius, yang hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang serius. Oleh karena beratnya beban ini, maka Imam syahid Hassan Al Banna menyusun sebuah risalah yang berisikan panduan dalam membentuk karakter rijaalud da’wah. Itulah RT.

Dinamakan RT karena pembinaan adalah hal asasi yang tidak bisa ditinggalkan atau dianggap sekadarnya saja. Sebuah jama’ah yang mengabaikan aspek pembinaan ini, cepat atau lambat, akan mengalami jumud bahkan hancur. Aspek pembinaan yang dimaksud adalah pembinaan yang menyeluruh dan menyentuh semua aspek kepribadian manusia serta terprogram secara rapi dan jelas. Tanpa adanya pembinaan yang benar maka tidak akan dihasilkan rijaal yang tangguh. Padahal rijaal yang tangguh ini merupakan tulang punggung kokoh bagi tubuh jama’ah. RT mencakup semua aspek tadi dan memiliki arahan yang jelas, tanpa bertele-tele. Itulah mengapa RT penting bagi setiap kader da’wah.

Rukun bai’ah dan Landasan Pembinaan

Bai’ah bermakna janji setia. Setiap muslim wajib hukumnya berbai’ah. Syahadatain adalah sebuah bentuk bai’ah yang menjadi rukun Islam yang pertama. Tanpa syahadatain, maka tidak sah keislaman seseorang. Sebaliknya, dengan syahadatain yang diucapkan, dipahami dan diwujudkan dengan baik dan benar, akan menghasilkan muslim yang mu’min. Oleh karena itulah setiap muslim wajib berbai’ah. Bahkan bai’ah ini diulang-ulang dalam sholat. Selain itu, dalam sejarah kita juga mengenal ada bai’atul ‘aqobah, bai’atur ridhwan, bai’at kepada khalifah, dan lain-lain. Jadi bai’ah bukanlah merupakan hal yang asing dalam kehidupan muslim.

Perjuangan menegakkan kebenaran dan membasmi kemungkaran membutuhkan kader-kader yang istiqamah. Selain itu diperlukan juga barisan yang mantap. Maka dibutuhkanlah bai’ah sebagai salah satu unsur pengokohnya. Bai’ah yang benar dalam konteks perjuangan ini akan memberikan jaminan kader-kader yang setia dengan manhaj, bersabar dalam berjuang, serta rela berkorban. Hal ini sangat penting dalam jama’ah da’wah.

Bai’ah yang dimaksudkan dalam jama’ah da’wah bukanlah bai’ah buta, yaitu bai’ah yang asal-asalan di mana sesiapapun bisa berbai’ah dalam perjuangan ini. Imam syahid Hassan Al Banna memberikan arahan yang jelas dalam urusan bai’ah ini di RT, sebab bai’ah bukan perkara sembarangan. Beliau menuliskan sepuluh landasan/rukun dari bai’ah yang setiap kader da’wah wajib menghafalkannya (sesuai urutannya), yaitu:

  1. Al Fahmu (pemahaman)
  2. Al Ikhlash (keikhlasan)
  3. Al ‘Amal (perbuatan/aktivitas)
  4. Al Jihad (jihad)
  5. At Tadh-hiyah (pengorbanan)
  6. Ath Tho’at (ketaatan)
  7. Ats Tsabat (keteguhan)
  8. At Tajarrud (totalitas/kemurnian)
  9. Al Ukhuwah (persaudaraan)
  10. Ats Tsiqah (kepercayaan)

Bai’ah ditegakkan di atas kesepuluh dasar tersebut. Salah satu saja rukun tersebut tidak terpenuhi, maka bai’ah akan lemah dan mudah goyah, bahkan bisa menjadi batal.

Arkanul bai’ah ini dijelaskan satu persatu maksud dan tujuannya oleh Imam syahid Hassan Al Banna dalam RT agar menjadi suatu gambaran yang jelas dan bisa dipahami. Arkanul bai’ah merupakan bagian pertama dalam RT. Ini merupakan landasan pembinaan pribadi kader da’wah. Kader yang terbina berbasiskan hal inilah yang layak berbai’ah untuk memikul beban perjuangan.

Al Fahmu dituliskan oleh Imam syahid Hassan Al Banna sebagai rukun pertama. Jika kita melihat tradisi penulisan kitab-kitab hadits atau fiqih, maka yang pertama kali diulas oleh para ulama adalah mengenai Al Ikhlash. Namun Imam syahid Hassan Al Banna justru menempatkan Al Fahmu sebagai rukun pertama.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az Zumar: 9)

Dari ayat di atas kiranya cukup jelas mengapa diambil Al Fahmu sebagai rukun pertama. Perjuangan ini membutuhkan orang-orang yang bisa bergerak dengan baik dan benar. Ini membutuhkan wawasan. Orang-orang yang berjuang tanpa wawasan akan mudah dihancurkan atau mudah melenceng dari garis perjuangannya. Suatu amal ibadah yang dikerjakan asal-asalan atau tidak sesuai kaidahnya (dikarenakan si pengamalnya tidak memiliki pemahaman akan hal itu) akan tertolak, seikhlas apapun hatinya.

Al Fahmu (setidaknya) akan memastikan hal-hal berikut:

  1. Tetap pada jalur yang benar
  2. Tidak tertipu oleh berbagai godaan
  3. Cepat mengambil keputusan
  4. Luwes dalam bergerak
  5. Bijaksana

Imam syahid Hassan Al Banna, kemudian menetapkan sbuah standard pemahaman bagi kader da’wah. Inilah yang dikenal sebagai ushul ‘isyrin atau dua puluh prinsip Islam. Ini adalah pemahaman paling mendasar bagi setiap kader da’wah. Keduapuluh prinsip Islam ini adalah hal-hal yang menjadi kesepakatan seluruh ummat muslim di manapun mereka berada dan kapanpun masa mereka. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Ini bukan perkara furu yang padanya terbuka ruang interpretasi yang amat luas, sehingga menimbulkan keberagaman pemikiran. Tapi ushul isyrin tidak demikian. Ia merupakan nilai-nilai dasar dari Islam.

Dengan memahami ushul isyrin, maka akan muncul kader da’wah yang bijak dalam berda’wah di tengah ummat, karena tidak mengutamakan urusan furu’ dan sebaliknya justru mengutamakan hal-hal prinsip, di mana semua muslim sepakat dalam hal ini. Kader-kader da’wah yang memahami ushul isyrin diharapkan bisa menjadi agen perekat ukhuwah ummat muslim, di mana di masa sekarang ini issu perpecahan di tubuh ummat muslim masih menghangat. Da’wah ikhwan adalah da’wah yang menyatukan. Basisnya adalah ushul isyrin.

Al Ikhlash akan mencegah seorang al akh dari niat selain lillahi ta’ala. Ikhlash akan menjadikan langkah ringan. Ikhlash akan mengikis penyakit hati berupa riya’ dan sum’ah. Ikhlash juga pada akhirnya akan menghapuskan penyakit al wahn. Barang siapa yang punya niatan lain selain ridho dan rahmat Allah SWT, seperti ingin jabatan dan harta benda, niscaya akan segera mengalami tasaquth, baik cepat atau lambat.

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhari - Muslim).

Al Amal mendapat perhatian khusus oleh Imam syahid Hassan Al Banna. Di dalam RT beliau menuliskan marotibul ‘amal. Bahkan beliau juga menulis sebuah risalah tersendiri yaitu “Hal Nahnu Qaumun ‘Amaliyun”. Jama’ah ini dibentuk bukan untuk sekadar adu gagasan dan wacana, namun jauh lebih penting adalah berbuat nyata. Karena inilah yang diperintahkan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (At Taubah 105)

Namun ‘amal yang dimaksud bukanlah sekadar menggugurkan kewajiban. Tapi amal yang terarah dan konsisten. Maka itu beliau menyusun marotibul ‘amal yang menjadi prioritas program kerja gerakan. Dengan marotibul ‘amal ini akan menjadi jelas apa yang harus dikerjakan, siapa saja yang bisa terlibat, apa saja yang perlu dipersiapkan, dan bagaimana mewujudkannya.

Al Jihad dimasukkan ke dalam rukun bai’ah karena jihad inilah yang boleh dikatakan sebagai unsur yang menggerakkan. Tanpa adanya jihad, niscaya tidak akan ada gerakan ataupun gebrakan. Jihad pula yang akan membentengi perjuangan ini dari berbagai fitnah. Jihad juga akan menumbuhkan dan menjaga harga diri ummat. Ditambahkan pula oleh Imam syahid Hassan Al Banna, bahwa jihad ini adalah kewajiban yang telah termaktub gamblang di Al Qur-an dan As Sunnah. Sehingga tidak boleh lagi ada pertentangan mengenai hal ini.

At Tadh-hiyah adalah modal inti untuk mencapai tujuan. Tanpa tadh-hiyah, maka pencapaian tujuan hanyalah angan-angan belaka. Tadh-hiyah akan menghapuskan perilaku santai dan berleha-leha dalam perjuangan. Imam syahid Hassan Al Banna bahkan menganggap perilaku santai-santai ini sebagai sebuah dosa dalam gerakan da’wah. Da’wah Islam ini, dengan semua pencapaiannya, masih berlanjut hingga saat ini adalah karena pengorbanan para pendahulunya.

Ath Tho’at memegang peranan penting dalam jama’ah. Taat memberikan kepastian setidaknya dalam hal-hal berikut:

  1. Terlaksananya perintah
  2. Kesatuan langkah
  3. Kokohnya barisan

Terkait kadar ketaatan dan arti pentingnya bagi gerakan, Imam syahid Hassan Al Banna memberikan catatan mengenai tahapan da’wah yaitu:

  1. Ta’rif (pengenalan). Di fase ini taat belum bersifat mutlak. Masih berupa cukup pada rasa hormat dan cinta pada sistem dan prinsip umum jama’ah.
  2. Takwin (pembentukan). Di fase ini taat bersifat totalitas, tanpa ragu dan bimbang lagi. Hal ini dikarenakan sistem da’wah telah bersifat tasawauf murni untuk urusan ruhiyah dan militer murni dalam urusan operasional.
  3. Tanfizh (pelaksanaan). Di fase ini ketaatan mencapai puncaknya. Karena di fase ini da’wah adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan, kerja terus menerus untuk mencapai tujuan, dan kesiapan menanggung cobaan yang berat.

Ats Tsabat merupakan nilai yang penting dalam gerakan. Setiap al akh diminta untuk terus menerus bekerja menjalankan program-program da’wah hingga akhir hayatnya. Tidak mundur sedikitpun dan tidak pula tergoda oleh godaan duniawi. Tsabat ini merupakan pengejawantahan dari sifat sabar. Menurut Syaikh Yusuf Al Qaradhawi sabar ini merupakan sebuah prinsip dasar dalam gerakan.

At Tajarrud juga merupakan hal penting. Ini merupakan rukun yang akan mengarahkan pada militansi. Tajarrud akan mengembalikan setiap individu kader pada fikrah yang satu dan tidak bercampur-campur. Apabila suatu fikrah telah tercampur-campur, maka bisa dipastikan tidak akan ada pihak yang akan berpegang teguh dan memperjuangkannya, karena fikrah tersebut meragukan. Fikrah yang ragu-ragu atau tidak kokoh akan menghasilkan kader yang ragu-ragu pula. Maka itu, Imam syahid Hassan Al Banna meminta setiap akh untuk membersihkan hati dan fikirannya dari fikrah lain selain fikrah yang sesuai dengan Al Qur-an dan As Sunnah.

Al Ukhuwah sangat diperlukan karena da’wah ini diusung secara berjama’ah oleh individu-individu kader yang diikat oleh kesatuan aqidah. Ukhuwah yang dimaksudkan bukanlah berlandaskan pada materi atau slogan-slogan kosong. Namun berlandaskan pada aqidah islamiyah. Imam syahid Hassan Al Banna bahkan menegaskan bahwa ukhuwah merupakan salah satu realisasi keimanan. Iman dan ukhuwah ibarat sekeping mata uang logam. Di mana ada keimanan, maka di baliknya ada ukhuwah. Sebaliknya beliau mencela perpecahan, karena perpecahan adalah saudara kandung kekufuran dan akan menyebabkan hancurnya bangunan jama’ah. Dengan adanya ukhuwah ini maka akan muncul rasa senasib sepenanggungan serta bahu membahu dalam memperjuangkan da’wah. Unsur-unsur penting dalam ukhuwah di antaranya:

  1. Taushiyah dalam kasih sayang, kebenaran, dan kesabaran
  2. Ta’awun dalam kebaikan dan ketaqwaan
  3. Ruhama bainahum
  4. Saling mengutamakan saudaranya

Ats Tsiqah melengkapi rangkaian rukun bai’ah ini. Tsiqah erat kaitannya dengan urusan kepemimpinan. Hubungan tentara dan komandan akan langgeng dan mulus dengan adanya tsiqah ini. Jalur komando ini penting, karena dalam da’wah pada hakikatnya adalah peperangan antara haq dan bathil. Diperlukan kedisiplinan yang tinggi. Disiplin ini muncul dari rasa tsiqah tadi. Imam syahid Hassan Al Banna menuliskan beberapa pertanyaan sebagai syarat dari tsiqah. Di antaranya:

  1. Apakah sejak dulu ia mengenal pemimpinnya dan telah mempelajari riwayatnya?
  2. Apakah ia percaya pada kapsitas dan keikhlasannya?
  3. Apakah ia siap menganggap semua instruksinya harus dilaksanakan tanpa reserve, tanp aragu, tanpa dikurangi atau ditambahi, dengan dibarengi keberanian memberi nasehat dan peringatan untuk tujuan yang benar?
  4. Apakah ia siap menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar dalam hal terjadi pertentangan dalam urusan ijitihadiyah yang tidak ada teks yang tegas dalam syariah?
  5. Apakah ia siap meletakkan seluruh aktivitasnya dalam kendali da’wah? Apakah pemimpin berhak untuk mentarjih antara maslahat dirinya dan maslahat da’wah secara umum?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan menentukan kadar kepercayaan dan ketaatan kepada pemimpin.

Implementasi Rukun Bai’ah

Sepuluh rukun bai’ah adalah landasan bagi pembentukan karakter kader da’wah. Imam syahid Hassan Al Banna kemudian juga menyusun teknis operasional rukun bai’ah itu untuks etiap individu kader da’wah. Teknis itu disebut sebagai wajibatul akh (kewajiban seorang kader) yang berisi 38 buah kewajiban indvidu yang mencakup semua aspek dalam kehidupannya. Wajibatul akh ini adalah bukti bahwa seseorang telah benar dalam berbai’ah. Dan ia akan menjelma menjadi seorang kader da’wah yang bisa diandalkan.

Wallahu a’lam bishshowab

Tomy Saleh. Kalibata. 5 Juni 2009.

Menyikapi Pihak Lain

Pepatah itu singkat saja, "rambut sama hitam, tapi isi kepala berbeda-beda". Di ruangan yang sama, ada seribu kepala, maka akan ada pula seribu pemikiran yang berbeda. Setiap manusia Allah ciptakan berbeda. Saudara kembar sekalipun, tetap memiliki perbedaan. Setiap kita punya ciri khas masing-masing. Tidak ada manusia yang sama persis dalam semua hal. Si A dan si B boleh saja saudara kembar yang memiliki selera terhadap makanan yang sama. Tapi si A dan si B bisa berbeda dalam hal pemikiran politik, misalnya.

Perbedaan yang ada itu menjadi tantangan bagi manusia untuk dikelola dalam rangka memakmurkan kehidupan di muka bumi. Inilah salah satu fungsi manusia sebagai khalifah. Perbedaan yang akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah adalah perbedaan yang di-manage sedemikian rupa sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain dan meningkatkan kualitas kehidupan dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT.

Adalah fitrah, jika manusia akan senang jika menemukan persamaan dengan manusia lainnya. Namun juga sangat manusiawi, jika manusia akan saling memberikan sikap atau respon atau pendapat terhadap perbedaan-perbedaan yang tampak di depan matanya. Kita tidak perlu risau atau galau terhadap sikap pihak lain terhadap kita. Barangkali point-point di bawah ini bisa menjadi bahan pertimbangan kita dalam menyikapi pihak lain:

1. Jika dikritik, terimalah!
Kritik adalah sebuah masukan. Tidak perlu repot menjawab, karena memang bukan pertanyaan yang perlu dijawab. Juga tidak usah ada klarifikasi dan upaya "menyerang" balik pihak pengkritik. Lupakan identitas siapa yang mengkritik dan apa isi hati atau motif si pengkritik. Fokus ke isi kritikannya. Cobalah untuk berbahagia bersama kritikan. Dengan itu kita bisa menjadi lebih hati-hati dan lebih baik lagi di masa yang akan datang. Berbesar hatilah untuk menampung semua kritikan dari semua pihak.

2. Jika difitnah, klarifikasi!
Fitnah adalah tuduhan palsu terhadap kita. Basis fitnah ada dua: kebodohan (ketidaktahuan akan informasi atau data yang sesungguhnya) dan kebencian. Jika mendapat fitnah, sebisa mungkin, lakukan klarifikasi secepatnya dengan cara-cara yang elegan. Jangan melakukan klarifikasi dengan basis kebencian pula. Paling afdhol jika dilengkapi dengan klarifikasi berupa sikap atau perbuatan atau akhlak. Sehingga fitnah itu menjadi batal.

3. Jika salah, luruskan!
Kesalahan adalah ketidaktepatan dengan patokan atau tolok ukur. Jika kita mengetahui patokan tersebut, maka luruskanlah kesalahan dengan sebaik mungkin. Tidak perlu menjadi bahan ejekan atau olok-olok. Tidak usah pula mencari-cari, mengada-adakan, merekayasa, mengungkit-ungkit, atau mengintai kesalahan pihak lain. Begitu tampak kesalahan, segera luruskan dengan baik-baik. Sekali lagi: tanpa dilandasi kebencian terhadap si pelaku kesalahan.

4. Jika benar, dukung dan ikuti!
Kata Nabi, hikmah adalah milik orang mukmini yang hilang; di manapun ditemukan, ambillah. Kebenaran bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dari siapa saja. Jika nampak kebenaran di depan mata, maka dukung dan ikutilah. Tidak usah melihat siapa yang menyampaikannya. Kita yakini semata-mata kebenaran itu datangnya dari Allah SWT. Jangan pilih kasih terhadap datangnya sumber kebenaran. Misalnya walikota kota S sukses mengemban amanah dengan baik. Ia berhasil menekan angka kemiskinan dan angka korupsi. Birokrasi dan manajemen kota sangat simpel dan ramah. Nilai-nilai keadilan berhasil ditegakkan. Maka walikota seperti ini harus kita dukung, sekalipun dia dari partai yang berbeda dengan partai yang kita anut!

5. Jika diejek, diamkan!
Ejekan adalah lontaran kata-kata kasar yang mencoba menciptakan opini yang merendahkan (negatif). Basis ejekan adalah kebencian. Suatu ketika Nabi Isa AS, melewati sekelompok orang. Lalu mereka melontarkan kata-kata ejekan yang keji dan kotor. Tapi Nabi Isa AS diam belaka. Seseorang mendekatinya, "mengapa tidak engkau balas ucapan mereka?". Jawab beliau, "setiap orang mengeluarkan apa yang dimilikinya.". Para pengejek hanya memiliki kosa kata ejekan di kepalanya. Tidak ada argumentasi ilmiah yang dimiliki. Tidak ada kredibilitas intelektual. Kita patut mengasihani para pengejek-pembenci ini. Ikuti saja teladan Nabi Isa AS.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang adil dalam menyikapi pihak lain. Allah SWT berfirman, "...berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa..." (QS. Al Maidah ayat 8)

Wallahua'lam bisshowab.

TomySaleh.Kalibata.28Oktober2011.10:31WIB

Kekayaan Kita: Rizqi Atau Istidraj?

"(44) Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur'an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. (45) dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh."
(QS. Al Qalam ayat 44 - 45).

Belum lama ini sebuah majalah terkemuka dari Amerika Serikat, Forbes, merilis daftar orang paling kaya se-Indonesia. Ada empat puluh orang yang masuk list. Diberitakan, kekayaan mereka meningkat dibanding tahun sebelumnya (2009). Bahkan ada nama-nama baru. Duduk di peringkat tiga besar berturut-turut adalah Hartono bersaudara (Budi dan Michael), pemilik Djarum Group dengan total kekayaan USD 11 milyard (sekitar hampir Rp 100 triliun). Lalu ada Susilo Wonowidjojo, pemilik Gudang Garam Group dengan total kekayaan USD 8 milyard (sekitar Rp 70-an triliun). Dan kemudian ada Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinarmas Group dengan total kekayaan USD 6 milyard (sekitar Rp 50-an triliun). Di tengah berbagai permasalahan bangsa ini, ternyata bisa muncul sejumlah orang yang mampu meraup kekayaan yang dahsyat.

Jumlah kekayaan mereka amat fantastis. Mereka memiliki gurita bisnis raksasa yang memungkinkan mereka memiliki pundi-pundi uang sebegitu banyaknya. Bisnis mereka meliputi industri rokok, properti, perbankan, telekomunikasi, konstruksi, manufaktur, consumer good, dan lain-lain. Rasanya, kekayaan mereka itu tidak akan habis dinikmati sampai tujuh turunan.

Namun dari daftar tersebut, sangat sedikit yang muslim. Malah ada pula nama-nama yang pernah punya (sampai sekarang?) citra negatif di mata masyarakat Indonesia karena kasus-kasus korupsi, penyuapan pajak, dan kezaliman dalam menjalankan bisnis. Di samping itu ada orang-orang super kaya yang meraup dollar dari bisnis yang diharamkan oleh agama misalnya dari riba (bunga bank), menjual produk konsumsi yang merusak tubuh (seperti miras dan rokok), dan perjudian (kasino).

Memiliki harta (yang banyak) tentu bukan perkara yang dilarang dalam agama. Ajaran agama tidak pernah concern pada jumlah kekayaan, tapi lebih pada proses mendapatkan kekayaan tersebut dan bagaimana kekayaan itu dipergunakan. Tidak ada ayat atau hadits yang menyatakan bahwa kekayaan yang boleh dimiliki seseorang maksimal sejuta dinar, misalnya. Yang ada adalah ajaran jika memiliki kekayaan sekian dinar, maka zakatnya sekian persen. Tidak ada seruan dari Al Qur-an dan As Sunnah untuk membatasi bentuk harta kekayaan yang boleh dimiliki (misalnya properti saja atau pertanian saja atau emas saja atau peternakan saja). Yang senantiasa diserukan adalah agar kita mencari harta kekayaan yang halal dengan jujur dan amanah.

Derasnya arus materialisme dan bergesernya nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat, turut mempengaruhi cara pandang dalam menilai seseorang. Kemuliaan dan kehormatan kini cenderung dinilai atau diukur dari seberapa banyak harta yang dikuasai, entah diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Berkawan dan bersosialisasi dengan kaum the haves dirasakan lebih berharga dan lebih penting dibanding dengan kaum miskin. Pola hidup jetset gencar digaungkan oleh media. Kehidupan borjuis terus menerus dimasukkan ke alam pikiran masyarakat. Khayalan-khayalan kemewahan hidup dijadikan opini umum (bukan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar ikhlas dan pekerja keras jujur). Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”. Kadangkala, kemiskinanpun ditayangkan di televisi, tapi bukan untuk menghilangkan kemiskinan tapi dieksploitasi untuk meraih rating dan pemasukan dari iklan untuk si pemilik tayangan dengan sedikit memberikan “uang receh” kepada si miskin yang jadi aktor di tayangan tersebut.

“Perjuangan” untuk mewujudkan pemikiran materialisme, khayalan-khayalan borjuis, dan impian kemewahan hidup ke dalam kenyataan, menjadi pemandangan sehari-hari. Sebahagian sudah “berhasil”, sebahagian lainnya masih terus berjuang. Demi mengejar status sosial, banyak orang rela melakukan apa saja, di mana saja, dan kapan saja. Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi rambu dan petunjuk penting dalam ‘perjuangannya’ itu. Halal-haram tidak lagi penting. Yang paling penting adalah seberapa cepat dan seberapa banyak kekayaan itu bisa dikuasai. Ini bisa dimaklumi karena motivasi perjuangannya bukanlah untuk mencari ridho Allah SWT.

Muncullah di permukaan bumi ini, orang-orang yang kaya raya. Hartanya berlimpah, kehidupannya mewah. Kekayaannya mengundang decak, gaya hidupnya membuat orang terhenyak. Tapi (sayangnya) banyak orang kaya yang seperti itu justru jauh dari tuntunan agama. Mereka melupakan Allah dan RasulNya. Mereka melakukan keburukan dan kefasikan. Mereka melumrahkan kecurangan dan kesewenang-wenangan. Tingkah laku mereka dijadikan trend setter oleh media (misalnya melalui tayangan infotainment dan sinetron). Tidak ada lagi rasa malu melakukan berbagai pelanggaran terhadap nilai atau norma agama atau moral. Tidak ada keraguan untuk memamerkan dan mempertontonkan kegilaan materialistik dan kemaksiatan. Mereka mengajak masyarakat untuk ‘meneladani’ mereka: pikirannya, ucapannya, tindakannya, pakaiannya, makanannya, minumannya, bahasanya, dan gaya hidupnya. Tak jarang pula mereka tampil religius, lengkap dengan ucapan yang fasih, “Ini semua rizqi dan nikmat dari Allah SWT!”. Uniknya, walaupun mereka seperti itu, kekayaan mereka tidak berkurang sedikitpun. Bahkan semakin berlipat ganda. Popularitas mereka semakin tinggi. Polah tingkah mereka menjadi opini umum di masyarakat. Mereka melaju terus, lenggang kangkung, tanpa hambatan. Suara-suara protes kritis dan nasehat, dianggap angin sepoi-sepoi yang segera berlalu dan terlupakan. Semakin jauh dari aturan Allah SWT, tawa mereka semakin membahana, senyum semakin lebar, semakin populer, dan semakin kaya raya.

Bagaimana bisa orang-orang yang tidak mau dekat dengan Allah justru dikaruniai “rizqi” yang berlimpah ruah dan memiliki pengaruh luas? Bagaimana dengan janji Allah bahwa dunia ini diwariskan kepada kaum yang beriman? Bagaimana bisa mereka tersenyum penuh kemenangan dan terus saja melaju dalam kemaksiatannya yang disiarkan setiap hari untuk disimak oleh berjuta-juta rakyat? Bagaimana pula dengan orang-orang yang rajin sholat, rutin mengaji, gemar menolong orang, tak absen di forum-forum pengajian, tapi “rizqi” mereka amat seret?

Tidak ada yang perlu dirisaukan. Mari kita lihat firman Allah SWT dalam surat Al An’aam ayat 44, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”. Orang-orang yang jauh dari mengingat Allah SWT, justru Allah “karuniakan” berbagai kesenangan duniawi. Semakin senang, semakin maksiat, semakin lupa akan iman dan amal saleh, justru semakin Allah tambahkan “karunia” tersebut berkali-kali lipat. Harta, kesenangan, popularitas, kekuasaan, kewenangan, kecerdasan, pengaruh politis, serta kemewahan hidup mereka adalah palsu belaka. Allah memberikannya kepada mereka tapi tidak dengan disertai keberkahan. Tidak ada rahmatNya di sana. Tidak ada ‘senyum’-Nya di sana. Semua “karunia” itu tidak membuat mereka tentram dan ingat kepada Allah. “Karunia” tersebut tidak menjadikan mereka ahli ibadah yang dekat dengan Allah. Allah SWT berfirman dalam surat Al Mu’minun ayat 55-56, “Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak- anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan- kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.”.

Sesungguhnya “karunia” mereka itu tidak pantas disebut sebagai rizqi. Allah telah memberikan terminologi khusus untuk itu. Allah berfirman dalam surat Al Qalam ayat 44 – 45, “(44) Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Qur'an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. (45) dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.”. Dan juga dalam surat Al A’raaf ayat 182, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”. Itulah istidraj. Secara harfiah, istidraj bermakna berangsur-angsur, bertahap, atau kontinyu. Secara istilah, istidraj bermakna pemberian (nikmat) Allah SWT (yang berlipat-lipat banyaknya) kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, yang dengan itu mereka semakin ingkar kepada Allah SWT dan RasulNya, sehingga semua karunia nikmatNya tersebut justru akan membawa mereka pada kebinasaan, baik binasa hati nurani, binasa akhlak, binasa ruhani, binasa harta (karena pertikaian perebutan harta), binasa popularitas (karena tersaingi atau terkena kasus-kasus hukum), dan binasa di hari akhir kelak. Allah SWT berfirman dalam surat Al Humazah ayat 2-6, “...yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan.”.

Rasulullah SAW menegaskan lagi dalam sabdanya, “Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba apa yang diinginkannya, padahal hamba itu selalu berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuknya. (lalu Rasulullah SAW membaca surat Al An’aam ayat 44)” (HR. Ahmad dan Thabrani, dalam kitab As Syu’ab). Jelaslah kini bagi kita mengapa koruptor bisa bebas melanglang sambil tersenyum serta terus berjaya. Teranglah kini bagi kita mengapa para politisi dan birokrat penipu bisa terus bertengger lama di jabatannya. Tidak ada lagi tanda tanya dan kerisauan di dada kita. A

Bagaimana dengan “nasib” orang-orang yang beriman? Allah SWT telah memberikan ‘surat cinta’ untuknya (peringatan), “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid ayat 20).

Namun, apakah ini berarti kaum beriman tidak boleh dan tidak bisa mendapatkan kenikmatan dan kejayaan di dunia dalam rangka menebar rahmatNya? Allah SWT berfirman dalam surat Al Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”. Inilah yang seharusnya jadi concern kaum beriman. Inilah tuntunan yang tepat. Inilah rizqi dari Allah SWT yang akan memberikan ketenangan karena di dalamnya ada keberkahan, ada rahmat, dan ada ‘senyum’ dari Allah SWT. Inilah yang membedakannya dengan istidraj. Tidak perlu iri dengan kelebihan harta orang lain, tapi marilah kita syukuri dan kita kembangkan nikmat rizqi dari Allah SWT. Marilah kita bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas agar bisa menjadi kaya dengan rizqiNya, bukan istidraj.

Wallahu a’lam bisshawab.

Tomy Saleh. Kalibata. 22 Desember 2010. 10:30WIB

Ular Hitam Bertelur Emas: Waspadalah!

Beberapa tahun yang lalu (antara 2003 - 2005, kalau tidak salah ingat), saya diajak seorang rekan untuk menghadiri sebuah acara ceramah agama di Masjid At Taqwa, Jl. Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Yang memberikan ceramah orang dari luar negeri. Saya kurang tahu dari mana. Namanya Dr. Abdul Hamid Al Ghazali. Beliau berceramah mempergunakan bahasa Arab. Beliau didampingi oleh seseorang yang bertindak selaku penterjemah ceramahnya. Salah satu isi ceramah yang masih saya ingat adalah sebuah kisah perumpaan tentang dunia. Berikut kisahnya (tentu dengan sedikit modifikasi dan mungkin dramatisasi dari saya yang tidak mengubah inti cerita):

Alkisah ada seorang saudagar kaya raya. Ia pengusaha sukses. Bisnis lancar dan mendatangkan untung besar. Harta benda berlimpah, istri cantik, dan anaknya pintar dan lucu. Kehidupan rumah tangganya juga harmonis. Pendek kata hidupnya bahagia dan sejahtera.

Namun, pada suatu pagi dia mendapat laporan dari pembantunya bahwa seekor kuda kesayangannya mati di kandangnya. Segera ia menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengunjungi TKP. Benar. Ia dapati kuda gagah itu sudah terkapar. Terbayang kerugian yang dideritanya akibat kematian kuda yang amat mahal itu. Dia bertanya kepada pembantunya apa penyebab kematian kuda itu. Si pembantu menjawab bahwa kuda itu mati digigit ular berbisa. Ular itu masih ada di dalam kandang. Si saudagar mendekat ke mayat kudanya dan benar saja di sudut kandang ia dapat ular hitam besar. Ia memberi isyarat kepada pembantunya untuk memberinya pedang. Ia akan membunuh ular itu. Begitu ia siap untuk mengeksekusi ular tersebut, perlahan ular itu bergerak sedikit. Dari sisi ular itu terlihat benda bulat berkilauan. Ular bergerak lagi, sehingga terlihat jelas benda itu. Menyerupai telur, tapi berwarna emas. Si saudagar tertegun. Dengan hati-hati ia geser benda itu dengan pedangnya. Setelah dekat, ia pungut. Ternyata emas. Ular hitam itu bertelur emas. Ditimang-timangnya telur itu sambil menatap ke ular hitam. Pedang ia turunkan. Lalu ia berkata pada dirinya sendiri, "Setidaknya harga telur emas ini bisa menyamai bahkan melebihi harga kudaku ini. Kalau aku bunuh ular ajaib ini sekarang, boleh jadi aku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan telur emas berikutnya. Baiklah, aku beri kesempatan hingga esok hari . Jika tidak ada telur emas esok, ia akan aku bunuh.". Akhirnya ia biarkan ular hitam itu. Bangkai kudanya segera dikubur oleh pembantunya. Untuk sementara ia meminta agar kandang dikunci, supaya ular tidak keluar.

Menjelang siang, terdengar suara jeritan anaknya dari dalam kamar. Bergegas ia menuju kamar anaknya. Kaget bukan kepalang ia dapati anaknya terkapar di lantai di sisi tempat tidurnya. Ia dekati tubuh anak kecil itu dan ia segera mendapat kepastian bahwa anaknya sudah tak bernyawa. Di lengannya terdapat luka kecil bedarah. Seperti gigitan ular. Dengan sedih bercampur marah, ia melihat ke sekeliling kamar itu mencari ular yang menggigit anaknya. Ternyata di salah satu sudut kamar terlihat ular hitam besar. Ia mengenali ular itu. Mirip ular yang tadi pagi membunuh kudanya. Ia sangat marah. Setelah menyerahkan mayat anaknya pada pembantunya, ia ambil sebilah pedang. Ia bertekad tidak akan mengampuni ular itu. Begitu ia siap mengayunkan pedangnya, ular itu bergerak perlahan. Dan, mirip seperti tadi pagi, di dekat tubuh ular itu ada telur emas. Kali ini bukan satu, tapi tiga sekaligus, dengan ukuran yang lebih besar sedikit dari yang tadi pagi. Seketika hati si saudagar goyah. Tangan yang kokoh hendak mengayunkan pedang, kini melemas. Kejadian tadi pagi terulang lagi. Ia ambil telur-telur emas itu dan ia ucapkan pula kata-kata yang tadi pagi. Untuk menghibur dirinya, ia pun berlogika, "'toh anak masih bisa aku hasilkan lagi bersama istriku. Kami masih muda dan sehat.". Tak lupa ia kunci pintu kamar itu rapat-rapat.

Sore hari, usai dari pemakaman anaknya, kembali ia mendengar jeritan. Tampaknya dari arah dapur. Kali ini suara istrinya. Dengan hati gundah, ia bergegas ke arah sumber suara. Betul saja, istrinya terkapar di lantai dapur. Mati. Lagi-lagi ia lihat ular hitam itu. Di salah satu sudut dapur. Entah apa yang merasukinya, kini yang pertama kali diambilnya bukan pedang, tapi tongkat kayu panjang. Perlahan ia geser tubuh ular itu. Persis seperti yang ia duga. Di sana tergeletak telur emas. Jumlahnya lima butir dan ukurannya lebih besar sedikit dari yang ditemukan di kamar anaknya tadi siang. Telur-telur emas yang unik dan amat berharga kini miliki. Rasanya di dunia ini tidak ada telur emas seperti yang ia miliki. Pastilah harganya amat mahal. Ia pun berlogika lagi, "Baiklah. Orang-orang yang kusayangi sudah pergi semua. Tapi tak mengapa, 'toh dengan harta kekayaanku ditambah dengan telur-telur emas yang pastinya amat mahal ini, aku bisa memulainya lagi dari awal.". Dan ia kembali berharap ular itu akan bertelur emas lagi. Maka ia biarkan ular itu di dapur. Setelah mengeluarkan mayat istrinya, ia kuci seluruh akses masuk ke dapur itu. Ia pun meletakkan istrinya di ruang tengah. Ia letih. Pemakaman istrinya akan ia urus esok hari. Pikirannya menerawang jauh ke harta dan telur-telur emasnya. Ada banyak agenda yang akan dikerjakannya dengan itu semua.

Hari sudah gelap. Ia pun bersiap untuk terlelap. Belum lama ia merebahkan badan di kasur empuk, ular hitam itu muncul lagi dari balik selimutnya. Belum sempat melakukan apapun karena terkejut, ular itu sudah menggigitnya. Ia menjerit keras. Dalam tempo semenit, ia merasakan racun ular hitam besar itu menyakiti tubuhnya. Ia menggigil hebat. Busa keluar dari mulutnya. Pandangannya menggelap. Bayang-bayang maut tampak jelas. Ia pun mati. Tak sempat ia nikmati telur-telur emas itu. Tak sempat ia kuburkan istrinya. Tak sempat ia kenang semuanya. Ia kehilangan semuanya.

Ular hitam itu adalah pengibaratan tentang dunia. Telur emas adalah pesonanya. Kita takut dengan ular berbisa itu, tapi ia selalu menghasilkan telur emas yang amat unik dan berharga. Maka kitapun menunda untuk membunuhnya. Berharap, ular itu akan terus menerus memberikan telur emas. Padahal ular itu hanya bertujuan untuk membunuh dan memakan makhluk hidup lainnya. Kita terbuai dengan telur emas. Tapi lupa akan bahaya yang mengancam. Manusia sering terbuai dengan pesona duniawi yang amat dahsyat, padahal pada hakikatnya itu semua hanya melalaikan manusia dari Rabb-Nya. Jika sudah lalai, maka kehancuranlah yang akan didapatnya. Lantas, apakah kita tidak boleh menikmati dunia. Allah SWT berfirman, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al Qashash ayat 77).

Semoga kita semua termasuk dalam orang-orang sebagaimana doa Umar bin Khaththab r.a., "Ya Allah jadikanlah dunia di genggaman tangan kami, bukan di hati kami."

Wallahu a'lam bisshowab.

Tomy Saleh. Kalibata. 18 Januari 2010. 10:52WIB

Ocehan Asal Goblek Tentang Pemimpin

Asal goblek adalah frase Betawi yang berarti asal bicara, ceplas-ceplos, tidak pakai dipikir-pikir dulu, ucapan tanpa beban, dan pengertian-pengertian lain yang sejenis dengan itu. Ocehan asal goblek kali ini adalah ungkapan sok tahu yang berangkat dari kesebalan terhadap sikap sebahagian orang yang diberi amanah sebagai pemimpin (di manapun). Ocehan-ocehan itu termuat sebagai status di jejaring sosial facebook. Inilah dia ocehan asal goblek itu:

Kaum cerdik cendekia yang melegitimasi kebathilan, merancang kabut penutup kebenaran dan keadilan, serta menjilat telapak kaki penguasa zalim, demi keamanan, posisi 'terhormat', dan jaminan atas penguasaan secuil harta, adalah layak kita anugerahi "Bal'am Award". (29 November 2010) -note: Bal'am adalah nama ulama pendukung Fir'aun.

Menjadi ulama tidak cukup dengan sekadar well educated. Perlu juga jujur, kelincahan, kejelian, keberanian, dan ketegasan. Kalau tidak seperti itu, ulama-ulama pakar syari'ah itu sangat berpotensi menjadi bal'am. (30 November 2010)

Meminta khalayak untuk tsiqah (percaya) dan tho'at, tapi tidak menampakkan tanda-tanda kelayakan untuk di-tsiqoh-i dan di-tho'at-i adalah sebuah pembodohan, walau berbalut retorika muluk atau bertameng kebijakan tak bijak yg dipaksakan sekalipun. (2 Desember 2010)

Pejabat (eksekutif, legislatif, judikatif) yang semakin kaya setiap waktu (menumpuk kekayaan dikarenakan jabatannya itu atau dengan kata lain: KKN), sulit diharapkan memiliki frekuensi yang sama dengan rakyat. Wajar jika kebijakan atau ucapan atau tindakan mereka tidak pro kepada rakyat. Tidakconnect dengan rakyat. Mereka lebih sering keseleo lidah. (2 Desember 2010)

Wibawa dan kehormatan pemimpin, sejatinya dibangun dengan kejujuran, rendah hati, terbuka terhadap masukan, dan dekat dengan konstituen. Bukan dengan tipu-tipu, memperalat konstituen untuk kepentingan pribadi, dan sibuk melengkapi diri dengan atribut kemewahan. (3 Desember 2010)

Pemimpin yang makin lama dalam kepemimpinannya malah makin rakus harta benda, gila hormat, anti nasehat, memperluas permusuhan dan kebencian, dan semakin otoriter, adalah pemimpin yang tidak bijak. Ada benarnya juga kata-kata Imam Al Ghozali bahwa pemimpin yang berkuasa lebih dari sepuluh tahun akan cenderung sombong. Semoga kita tidak menjadi pemimpin seperti itu dan dijauhi dari dipimpin oleh orang seperti itu. (3 Desember 2010)

SANG PENCERAH adalah pemimpin yang membimbing ummat ke arah kebaikan. SANG PENCURHAT adalah pemimpin yang hobi mengeluh ke media massa. SANG PENGERUK adalah pemimpin yang mengeruk kekayaan pribadi dengan jalan memperdaya konstituennya. (3 Desember 2010) -note: Sang Pencerah adalah judul film yang mengisahkan kehidupan K.H. Ahmad Dahlan, pendiri ormas Islam Muhammadiyah.

Pemimpin seharusnya jangan cuma sibuk bangun jaringan dan visi bersama (yang itupun tak jarang cukup rawan dari interest pribadinya), tapi juga amat penting untuk membangun dan memperkokoh ikatan hati dengan rakyatnya. Ikatan hati ini jelas tidak bisa dibangun dengan uang dan tipu-tipu retorika. (4 Desember 2010)

Pemimpin tidak mungkin mengakomodir semua keinginan tapi juga jangan abaikan semua suara. (5 Desember 2010)

Yang mengerikan dari pemimpin yang pintar dan berwawasan luas tapi licik dan tidak jujur adalah kelihaian melegitimasi atau membenarkan kebiasaanya (terutama yang buruk-buruk) atau kesalahannya dengan berjuta dalil logika yang amat masuk akal massa awam dan lugu. (7 Desember 2010)

Pemimpin adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, tapi kejujuran dan keikhlasan hati pemimpin tidak pernah salah. Semoga kita bisa jadi pemimpin yang jujur dan ikhlas. (7 Desember 2010)

Kepemimpinan yang zalim bisa langgeng tegak berdiri karena penyebab utamanya adalah massa awam dan lugu yang tidak terorganisir untuk melawan kezaliman. Mereka tidak sadar atau tidak berdaya atau apatis terhadap kezaliman pemimpin. (7 Desember 2010)

Pemimpin itu berasal dari rakyatnya. Tak elok ia bermewah-mewah jika ia berasal dari rakyat yang sederhana. Makin biadab jika ia melegitimasi kemewahannya dengan banding-bandingkan kemewahan pemimpin di negeri-negeri yang maju dan makmur padahal ia belum memajukan dan memakmurkan rakyat dan negerinya. (7 Desember 2010)

Pemimpin licik berupaya (memperdaya?) mengikat hati massa dengan uang bukan dengan berkhidmah pada mereka secara jujur dan sungguh-sungguh. Fondasi rapuh (uang) jangan harap bisa menopang bangunan kokoh (ikatan hati). (7 Desember 2010)

Pemimpin yang baik dan benar akan menyerukan hal-hal yang baik dan benar dengan cara yang baik dan benar ke konstituennya. Dia tidak sibuk berdalil logika untuk mengajak publik memaklumi pengumbaran hawa nafsunya. Misalnya: dia keranjingan mengoleksi kemewahan (padahal konstituennya kismin & madesu), maka dia buat dalil-dalil agar publik menjadi maklum bahkan mengikuti jejaknya. (8 Desember 2010) -note: kismin = miskin; madesu = masa depan suram

Keagungan pemimpin tidak dibentuk dari atributisasi dengan kemewahan atau dipagari oleh pengamanan yang tangguh (dan menyeramkan) atau dengan slogan-slogan bombastis, tapi dengan egaliterian dan kerja-kerja nyata untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama. (8 Desember 2010)

Tak jarang kita dapati sosok pemimpin yang merasa dirinya "Umar ibn Abdul Aziz", padahal fikiran, ucapan, dan tindakannya sangat "Hajjaj ibn Yusuf". (8 Desember 2010)

Pemimpin palsu itu niatnya palsu, omongannya palsu, idenya palsu, air matanya palsu, kerjaannya palsu, jargonnya palsu, marahnya palsu, senyumnya palsu, seruannya palsu, dan tawadhu'-nya palsu. (8 Desember 2010)

Pemimpin yang tidak mengakar di jiwa rakyatnya ibarat rumah berdinding gedek tanpa fondasi pula. (8 Desember 2010)

Pemimpin bijak adalah yang mampu memperkecil jumlah "musuh" dengan jalan merangkul mereka jadi kawan. Pemimpin yang tidak bijak adalah yang menambah rasa permusuhan terhadap dirinya. (8 Desember 2010)

Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh pemimpin kontemporer yang jauh dari glamournyakemewahan, tapi ia sedemikian berwibawa, didengar, dan ditaati segenap rakyat India. Pemimpin picik justru mengira glamournya kemewahan akan meningkatkan citra wibawa dirinya dan karenanya ia mengira akan disegani, padahal rakyatnya melarat. (9 Desember 2010)

Pengikut yang jujur dan ikhlas tapi bodoh dan tidak kritis, akan mudah diperdaya oleh pemimpin yang pintar tapi culas. (9 Desember 2010)

Pemimpin yang bijak dan baik akan mencerdaskan pengikutnya. Pemimpin yang feodal dan licik akan memanfaatkan kebodohan pengikutnya. (10 Desember 2010)

Pemimpin boneka (planted leader) adalah pemimpin yang berhasil menguasai lembaga kepemimpinannya tapi gagal mengakar di hati konstituen atau rakyatnya. (10 Desember 2010)

Ada sementara pemimpin yang mencerca feodalisme, tapi ia selalu menunggu tangannya dicium, ia merindukan punggung-punggung yang membungkuk di hadapannya, dan ia harapkan setoran amplop gemuk berisi uang dari para pengikutnya (yang dari situ ia ukur kadar kualitas para pengikutnya itu). Inilah pemimpin muke gile...! (10 Desember 2010)

Pemimpin bijak senang dan membuka diri terhadap kritik konstruktif. Pemimpin zalim senang jika pengikutnya menjadi kambing congek dan terbuka terhadap semua puji-pujian, walau palsu sekalipun.(13 Desember 2010)

Jadi pemimpin itu berat juga. Di samping dia harus menjalankan visi kepemimpinannya dan nilai-nilai idealismenya, dia harus juga memperhatikan suara-suara di sekitarnya: mana-mana yang harus diserap, yang harus dijawab, dan harus diabaikan. (13 Desember 2010)

Kami tidak iri dengan hartamu, tuan. Tapi kenapa tuan bisa jadi kaya raya setelah jadi pemimpin kami? Kekayaan tuan melampaui gaji tuan sebagai pemimpin. Padahal sebelum ini kami tahu bagaimana keadaan tuan. Tuan bukanlah saudagar. Bukan pula anak atau menantu saudagar atau bangsawan kaya. Apa kini tuan juga jadi saudagar? Apa yang tuan perdagangkan? Rakyat? (15 Desember 2010)

Pemimpin bijak akan menyesuaikan diri dan tindakannya dengan peraturan atau kesepakatan bersama. Pemimpin bajingan akan menyesuaikan peraturan atau kesepakatan bersama dengan diri dan tindakannya (dengan cara mengobok-obok, mengubah-ubah, atau mengacak-acak peraturan atau kesepakatan bersama itu). (16 Desember 2010)

Pemimpin baik tidak malu akui salah jika memang salah dan lekas kembali pada kebenaran. Pemimpin 'ndableg tidak malu-malu untuk memaksakan pembenaran atas kesalahannya, kalau perlu dengan ubah peraturan. (17 Desember 2010)

Konstituen yang diikat dengan uang, loyalitasnya hanya sebatas supply uang si pemimpin ke mereka. Tak ada uang, konstituen melayang. Tapi jika diikat dengan sentuhan hati dan nilai-nilai, loyalitasnya akan mampu bertahan sampai maut datang. (20 Desember 2010)

Pada masyarakat doktrinal, pemimpin mereka (dianggap): selalu benar, tidak pernah salah, suri tauladan teragung, sabdanya tak boleh dibantah, haram dikritik, perintahnya hanya wajib dijalankantanpa dipertanyakan, selalu senior, paling tahu segala hal, paling pintar, paling jago, paling berpengalaman, dan perjuangan dan pengorbanannya paling hebat. (22 Desember 2010)

Ada orang-orang yang mengira kepemimpinan adalah kalau mereka sudah berhasil meraih posisi puncak formal dalam sebuah kumpulan. Karenanya mereka akan mengejar penuh nafsu dan mengupayakan berbagai hal (termasuk yang tricky dan politicking) untuk meraihnya. Ini sangat menyedihkan. Esensi kepemimpinan bukan soal posisi, tapi soal pengaruh. Menduduki posisi puncak tapi tidak bias bangun pengaruh ke konstituen, sama saja bohong. Pengaruh itu lebih ke hati, karena ia berangkat dari cinta dan kejujuran, sedangkan "pemimpin" yang seperti disebutkan di atas tidak memiliki cinta dan kejujuran. (28 Desember 2010)

Tomy Saleh. Kalibata. 29 Desember 2010. 08:00WIB