TAWANYA PALSU (Kumpulan Fiksi Mini Edisi Mei 2010)

1. Tawanya Palsu
"Huh! Tawanya palsu!"
"Tahu dari mana?"
"Cuma bibirnya yang tertawa. Bahu dan matanya tidak."
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

2. Tegur Sapa Tak Tulus
"Huh! Tegur sapanya tak tulus!"
"Kok bisa?"
"Iya. Jabat tangannya lemah dan matanya tidak menatapku!"
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

3. Veteran Yang Tersisih
Veteran itu sering ke makam pahlawan. "Di sini aku dihargai. Kompak dengan teman-teman seperjuangan. Di luar sana aku cuma orang tua hina." (Posted in Twitter, 3 May 2010)

4. Tiga Sendok Makan/Hari
Ia mati. Tiga buah sendok makan menyumbat tenggorokannya. Tangannya memegang sebotol obat. Tertera di botol: tiga sendok makan/hari. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

5. Sendok Kenangan
Ujang duduk di samping makam si neng. Ia pandangi sebuah sendok. Di situ tersimpan kenangan waktu mereka saling menyuapi makan. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

6. Kelaparan Sendok
"Pak, terjadi kelaparan di sebelah timur!"
"Apa?! Kasihan mereka! Kau kirimlah jutaan sendok ke sana!"
(Posted in Twitter, 3 May 2010)

7. Piring, Gelas, Dan Sendok Kebanggaan
"Biarpun belum ada nasi dan lauk setidaknya piring, gelas, dan sendok, kita sudah punya dan siap pakai.", wong kere itu mencoba bangga. (Posted in Twitter, 3 May 2010)

8. Piring Dan Sendok Berdemo
Di salah satu sudut gubuk reot itu ada keributan. Piring dan sendok berdemo. "Kami ingin pekerjaan! Kami sudah lama nganggur!". (Posted in Twitter, 3 May 2010)

9. Mata Panah Diganti Sendok
Anak-anak panah itu tak melukainya. Achilles tertawa-tawa. Paris panik. Rupanya ada yang mengganti mata panahnya dengan sendok! (Posted in Twitter, 3 May 2010) --> inspired from Troy.

10. Cinta Palsu
"I luv u", SMS suami.
"I luv u 2", balas istri.
Kemudian mereka asyik lagi dgn selingkuhan masing2.
(Posted in Twitter, 4 May 2010)

11. Majalah Untuk Anak
Ia tersenyum menenteng seikat majalah anak-anak bekas. Ia sisihkan uang dari ngasong untuk membelinya. Terbayang wajah anaknya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

12. Majalah Pribadi
Bosan mengirim tulisannya yang tak pernah juga dimuat di berbagai majalah, ia membuat majalah sendiri, yang selalu memuat tulisannya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

13. Majalah Telepathy
"Telah terbit edisi baru. Kukirim sekarang.", kata penerbit majalah "Telepathy" itu dalam hati sambil bersila dan memejamkan mata di kamarnya. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

14. Rubrik Favorit
Di majalah "Santet" ada rubrik favorit para pembaca, para dukun santet, yaitu: Testimoni, kisah-kisah para korban santet. (Posted in Twitter, 4 May 2010)

15. Membunuh Kakek Di Masa Lalu
Ia baru tahu kakeknya dulu adalah pembunuh. Dengan mesin waktu ia balik ke masa lalu untuk membunuh kakeknya. Begitu kembali ke masanya, ia hilang! (Posted in Twitter, 5 May 2010)

16. Adik Selamat, Ia Mati
Karena terpeleset dan telat pegang tangannya, adiknya mati tergilas truk. Ia kembali ke masa itu dan selamatkan adiknya. Tapi ia mati tergilas truk. (Posted in Twitter, 5 May 2010)

17. Perenang Kata-Kata
Sejak kehilangan kaki, mantan perenang itu lebih banyak di rumah. "Jangan salah bung! Aku masih tetap berenang. Tapi di kolam kata-kata." Ya. Ia jadi penulis. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

18. Mati Di Danau Kata-Kata
Penyair muda itu mati di mejanya. Tubuhnya bengkak. Dari mulutnya mengalir huruf-huruf. Tadi ia berenang di danau kata-kata, tapi malah tenggelam. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

19. Berenang Ke Tempat Paman
Pamannya, Sam, menelpon supaya ia tinggal di rumah si paman. Merasa hebat, ia akan berenang ke benua seberang, tempat paman. (Posted in Twitter, 6 May 2010)

20. Berenang Dan Menyelam Mencari Mutiara
"Wuih, kuyup amat.."
"Iya nih. Abis berenang dan nyelam di lautan beton ibukota."
"Ngapain?"
"Nyari mutiara lowongan kerja.."
(Posted in Twitter, 6 May 2010)

21. Pintu Nurani Yang Terbuka
"Assalamu'alaikum", salam angin perubahan.
"Wa'alaikumsalam", jawab pintu nurani. Ia membuka diri. Angin masuk. Diri berganti.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

22. Jodoh Si Pembuat Pintu
"Akhirnya jodohku ketemu.", kata Si pembuat pintu.
"Oh, ya? Selamat bung. Siapa dia?", tanyaku.
"Gadis pembuat kunci.", jawabnya.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

23. Malas Membaca Pintu Terkunci
Sejak malas membaca, pintu pengetahuan terkunci rapat. Ia tidak bisa masuk ke dalam rumah yang nyaman itu. Ia di luar: lapar, haus, dan kedinginan. (Posted in Twitter, 10 May 2010)

24. Tak Ada Pintu, Cuma Tembok Rapuh
"Kalau kau paksa masuk ke hatiku maka ia akan hancur.", Kataku.
"Kenapa?", Tanyanya.
"Hatiku tidak ada pintu dan jendela, cuma tembok rapuh.", Jawabku.
(Posted in Twitter, 10 May 2010)

25. Saya Tidak Ngomel !
"SIAPA YG NGOMEL?! KAMU 'TUH JANGAN SEMBARANGAN NUDUH ORANG NGOMEL YA!!", katanya kepada seseorang di suatu forum. (Posted in Twitter, 11 May 2010)

26. Punggung Saling Mengomeli
Pasangan suami istri itu diam. Mereka saling memunggungi. Lalu punggung mereka saling mengomeli. Tanpa suara. (Posted in Twitter, 11 May 2010)

27. Berlibur Ke Kubur Nenek
Dia menenteng sekop. "Dapat surat dari nenek. Aku diajak berlibur ke rumahnya.", katanya. Neneknya sudah wafat. Kuburnya ada di kaki bukit. (Posted in Twitter, 14 May 2010)

28. Tersinggung Pada Angin
Dari jauh kulihat angin mendorong bunga itu ke arahku. Tapi wanginya pun tak menghampiriku. Aku tersinggung. (Posted in Twitter, 17 May 2010)

29. Bukan Serigala Yang Memakannya
"Aku memang di sana, tapi bukan aku yang memakan nenekmu!", kata Serigala. Si kerudung merah tak percaya. Ia lihat ada sobekan kain di sela giginya. (Posted in Twitter, 18 May 2010)

30. Jamu Awet Muda
Si mbok bakul jamu itu menggendong jamunya. Rutinitas harian. Tak ada yg tahu ia berusia 273 thn. Ia rajin minum jamunya sendiri. (Posted in Twitter, 25 May 2010)

31. Pensiunan Superhero
Dari balik tikungan sebuah truk trailer tak bisa menahan laju dan menabrak seorang kakek. Truk itu ringsek. Si kakek pensiunan superhero. (Posted in Twitter, 25 May 2010)

32. Ciuman Pertama Dan Terakhir
Ia senang bukan main dapat mobil pertamanya. Saking girangnya ia bawa mobil itu dengan kencang hingga mobil itu dapat ciuman pertamanya dari KRL. (Posted in Twitter, 26 May 2010)

Tomy Bustomy. Kalibata. 1 Juni 2010. 08:26WIB

Pilihan Dan Konsekuensi

Saya mendapati fakta menarik dalam kehidupan saya, setelah saya amati sekian lama. Saya tinggal di sebuah rumah kontrakan di sebuah daerah permukiman di Jakarta Barat. Rumah itu terletak di salah satu sudut yang dikelilingi tembok tinggi rumah para tetangga. Cukup tersembunyi dan relatif jauh dari kebisingan. Tidak ada kendaraan umum yang melalui jalan di depan rumah. Jalan di depan rumah termasuk jalan permukiman yang tidak banyak dilalui kendaraan. Ujung jalan tersebut bertemu dengan jalan besar yang, belakangan ini, sering macet. Kendaraan umum berseliweran 24 jam di jalan besar tersebut. Setiap hendak bepergian, saya kerap melalui jalan besar tersebut, karena di jalan itulah ada kendaraan umum. Jarak dari rumah hingga jalan besar (melalui jalan permukiman tadi) kira-kira 300 m. Pada jarak 100 m dari rumah saya, jalan permukiman itu bercabang membentuk pertigaan; lurus akan mengarah ke jalan besar, belok kiri akan mengarah ke jalan permukiman lain. Di pertigaan inilah ada satu-satunya kendaraan umum yang melintas: mikrolet (angkutan umum dari modifikasi mobil minibus/MPV; umumnya Toyota Kijang, belakangan ini ada pula yang dari Isuzu Panther, Suzuki Carry, dan Daihatsu GrandMax). Salah satu rutenya adalah menuju ujung jalan yang bertemu jalan besar. Jarak dari pertigaan menuju jalan besar kira-kira 200 m. Untuk menuju jalan besar, saya mesti melalui pertigaan tersebut.

Jika saya MEMILIH naik mikrolet menuju jalan besar, maka KONSEKUENSINYA saya harus keluar uang Rp 2000, TAPI lebih cepat tiba di jalan besar dan lebih santai. Jika saya MEMILIH berjalan kaki menuju jalan besar itu, maka KONSEKUENSINYA saya harus mengeluarkan energi ekstra dan butuh waktu lebih lama untuk tiba di jalan raya (kira-kira 7 hingga 10 menit lebih lama dibanding naik kendaraan), TAPI hemat uang Rp 2000.

Dari jalan besar itu saya masih harus naik kendaraan umum lain untuk tiba di tujuan, katakanlah kantor. Saya harus naik mikrolet lain menuju perempatan jalan raya propinsi (ongkos: Rp 2500). Dari perempatan jalan raya propinsi itu saya masih harus naik bus kota menuju kantor (ongkos: Rp 2500). Bus kota itu akan berhenti di ujung jalan permukiman di kawasan Jakarta Selatan. Jarak ujung jalan menuju kantor kira-kira 200 m. Jika saya MEMILIH jalan kaki dari rumah menuju jalan besar lalu naik mikrolet menuju perempatan jalan raya propinsi dan naik bus kota menuju kantor, maka KONSEKUENSINYA, seperti di atas, saya harus keluar ekstra energi dan sedikit lebih lama, TAPI saya hanya perlu keluar uang Rp 5000 (sampai tiba di kantor), walaupun mungkin kondisi bus kota sudah penuh (karena perempatan tersebut hanyalah salah satu perhentian saja dari sekian perhentian sejak bus meluncur dari terminal)

Sebenarnya, mikrolet yang melintas di jalan permukiman dekat rumah saya itu bisa juga membawa saya menuju jalan raya propinsi untuk kemudian saya menyambung lagi naik bus kota menuju kantor. Saya hanya perlu membayar mikrolet itu Rp 2500. Rutenya adalah melewati jalan besar seperti saya sebut di atas lalu berkelok-kelok memasuki jalan permukiman lain hingga tiba di sebuah pasar di pinggir jalan raya propinsi. Tapi bus kota yang saya perlukan ada di seberang jalan raya propinsi itu. Maka saya harus menaiki tangga penyeberangan jalan lalu berjalan kaki lagi kira-kira 100 m menuju halte bus. Jika saya MEMILIH opsi ini (naik mikrolet hingga pasar) lalu saya naik bus kota menuju kantor (dengan ongkos bus Rp 2500), maka KONSEKUENSINYA saya harus keluar energi ekstra naik jembatan penyeberangan dan berjalan lagi 100 m menuju halte, TAPI saya hanya perlu keluar uang Rp 5000 (sampai di kantor) dan mendapati bus yang tidak terlalu padat (dibandingkan bila harus naik bus tersebut di perempatan jalan raya propinsi, sebagaimana saya sebut di atas).

Hal-hal di atas adalah dengan asumsi saya berangkat ke kantor jam 6 pagi. Jika saya berangkat jam 6:30 atau lebih dari itu, maka PILIHAN dan KONSEKUENSINYA akan berubah lagi. Dari pertigaan di jalan permukiman, saya harus naik mikrolet ke ujung jalan besar (ongkos: Rp 2000) lalu naik mikrolet lagi menuju perempatan jalan raya propinsi (ongkos: Rp 2500). Dari situ saya mungkin tidak akan memilih naik bus kota yang langsung menuju lokasi kantor, karena bus tersebut kemungkinan sudah penuh atau harus menunggu lebih lama lagi hingga bus berikutnya tiba karena saya sudah tertinggal jadwal bus pagi. Oleh sebab itu saya akan memilih naik bus lain hingga ke salah satu perempatan lain lalu menyambung lagi naik bus kecil menuju kantor. Masing-masing ongkosnya Rp 2000. Sehingga total saya harus keluar ongkos Rp 8500. Tapi saya bisa sedikit antisipasi datang terlambat ke kantor.

Kemudian saya berfikir bagaimana kalau saya MEMILIH pindah rumah ke pinggir jalan besar? Segera saya dapati KONSEKUENSI bahwa harga sewanya lebih mahal plus saya akan memperoleh suasana bisingnya jalan raya. Atau saya mungkin bisa MEMILIH pindah rumah ke dekat kantor? Tapi KONSEKUENSINYA belum tentu ada rumah dengan harga sewa yang sama dengan rumah yang sekarang saya tempati dan hampir dapat dipastikan saya harus keluar ongkos ekstra lagi, karena sebahagian besar aktivitas dan amanah saya (aktivitas luar kantor, seperti sosial) ada di Jakarta Barat.

Lalu ada opsi lain: membeli sepeda motor. KONSEKUENSINYA adalah saya akan 'terikat' dengan motor tersebut: harus mencucinya, tune up rutin, bayar pajak, dan lain-lain. Belum lagi ruang di rumah akan menjadi lebih sempit dengan kehadiran motor tersebut. Bagaimana dengan mobil? Biaya cicilan mobil yang paling murah sama dengan seluruh gaji bulanan saya tanpa tersisa sedikitpun untuk membiayai makan dan tagihan rutin. Plus tidak ada tempat untuk meletakkan mobil tersebut.

Saya sebenarnya bukan tipe orang yang suka curhat. Maksud saya menulis di atas adalah hendak menyampaikan bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya. Kata orang, hidup itu adalah pilihan. Setiap kita menjalani kehidupannya masing-masing. Pola atau bentuk kehidupan tersebut sesuai dengan apa yang dipilihnya sebagai jalan hidup. Setiap pilihan itu memberikan konsekuensi dalam wujud yang khas. Kita dituntut untuk mempergunakan akal fikiran dan hati nurani yang sehat dalam menentukan pilihan karena hal ini terkait erat dengan kesiapan menanggung konsekuensinya. Setiap pilihan hendaklah "diterawang", diteliti dengan seksama, check and re-check, dan berkaca pada pengalaman (pribadi maupun orang lain). Sehingga setiap pilihan di pilih dengan bijaksana, ikhlas, sadar, paham, dan siap dengan konsekuensinya. Ketika menjalani pilihan tersebut pun dengan rasa senang, tenang, nyaman, dan penuh perhitungan dan perencanaan.

Mari kita simak firman Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8 berikut ini:

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,"

Allah SWT memberikan pilihan kepada kita: fasiq (jahat, munkar) dan taqwa. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika memilih taqwa, maka konsekuensinya tertera di ayat berikutnya (ayat 9):

"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,"

Dan jika memilih fasiq, maka konsekuensinya ada di ayat selanjutnya (ayat 10):

"dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Di surat dan ayat yang lain Allah SWT juga banyak memberikan pilihan beserta konsekuensinya kepada manusia. DiberikanNYA kita akal fikiran dan nurani untuk dipergunakan menimbang-nimbang dan memilih pilihan yang tepat. Tidak cukup hanya itu, Allah SWT memberikan pula sejumlah contoh kasusnya dalam kehidupan nyata (yaitu dari kisah-kisah kaum terdahulu) untuk dijadikan pelajaran bagi kita.

Pilihan-pilihan beserta konsekuensinya masing-masing akan turut menentukan bentuk dan kualitas hidup kita. Orang yang memilih banyak bersantai-santai di waktu muda, maka konsekuensinya ia akan bodoh dan miskin di waktu tuanya. Orang yang memilih banyak bekerja keras dan berbagi dengan sesama di waktu muda, maka konsekuensinya ia akan hidup damai dan makmur di hari tuanya. Orang yang memilih memperkaya diri sewaktu menjabat sebagai pemimpin, padahal rakyatnya ada yang kelaparan, maka konsekuensinya ia akan kehilangan kehormatan dirinya dan dikutuk Allah SWT. Orang yang memilih beribadah, jujur, tekun, dan berjuang di jalan Allah, maka konsekuensinya ia akan memperoleh salah satu dari dua: hidup mulia atau mati sebagai syuhada. Jadi, apa pilihan hidup anda? Tentukan dari sekarang dan JANGAN SALAH PILIH.

Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang yang memilih ridhoNYA. Aamiin.

Tomy Saleh. Kalibata. 30 Desember 2009. 13:06WIB

Kaget Dan Cermin Keimanan

Suatu ketika seseorang terpeleset dan refleks mengucapkan istighfar, "Astaghfirullah...!". Keterpelesetan itu mengagetkannya. Reaksi sesaat pertama tatkala kaget adalah fikiran kacau, tidak fokus, dan tidak bisa mengontrol gerak koordinasi tubuh. Tubuhpun limbung dan siap jatuh berdebam. Tapi, alhamdulillah, orang itu cuma terpeleset ringan dan gerak refleks tubuh turut membantu menstabilkan keseimbangan tubuh, sehingga tidak jatuh. Bersamaan dengan gerak refleks itu mulutnya (seolah refleks juga) memekikkan istighfar tadi. Orang itu bersyukur dua kali. Pertama ia tetap ingat Allah SWT (istighfar) dan ia tidak jatuh. Alhamdulillah.

Orang tersebut di atas bukanlah makhluk yang paling beriman dan bertaqwa. Pun juga bukan makhluk yang terbebas dari kesalahan dan dosa. Dia, sama seperi kebanyakan kita, hanyalah manusia biasa. Maksud saya menulis di atas bukan berati menyatakan orang tersebut lebih baik dari yang lainnya. Saya hanya sekedar berbagi pengamatan dan tahaduts ni'mat (menyebut-nyebut kenikmatan dari Allah). Saya pernah mendengar keutamaan untuk tahaduts ni'mat ini dalam rangka memuji kemahabaikan Allah SWT dan otomatis (insya Allah) mampu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Pemandangan tersebut adalah nikmat dari Allah SWT. Kenapa nikmat? Karena di dalamnya ada hikmah yang bisa kita petik dan dijadikan pengalaman dan kekayaan jiwa kita. Setidaknya ada dua hikmah (kenikmatan), yaitu:

1. Mengingat Allah (istighfar tadi) kapan saja dan di mana saja
2. Pelajaran agar lebih hati-hati dalam melangkah

Berdasarkan pengamatan saya selama ini, tidak semua orang mengucapkan asma Allah ketika kaget. Kalimat favorit yang keluar ketika kaget, jika boleh saya rangkum, adalah sebagai berikut:

1. Aaaaaa (teriak)
2. Eh copot
3. Eh, (kata-kata jorok)
4. Eh, (nama salah satu hewan, biasanya monyet)

Kata-kata itu merupakan refleksi dari apa yang selalu menjadi kebiasaan dalam keseharian. Alam bawah sadar fikiran merekam kebiasaan mendengar, melihat, dan mengucapkan tersebut. Hal-hal tersebut sudah begitu menyatu dengan kehidupan. Sudah menjadi sebuah kelumrahan. Sehingga menjadi sebuah "budaya" tersendiri. Ketika kaget, maka fikiran alam bawah sadar itulah yang muncul tiba-tiba. Hal itu karena kebiasaan itu sudah demikian satu kesatuan dengan diri dan fikirannya.

Berangkat dari pemikiran di atas, maka saya menyimpulkan amat penting untuk menata telinga, mata, dan mulut kita. Perlu diciptakan sebuah filter yang akan menyeleksi semua yang masuk maupun yang keluar. Agar yang masuk maupun yang keluar hanyalah yang baik-baik saja. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu dzikir (ingat) kepadanya dalam semua keadaan, yaitu, keadaan duduk, berdiri, dan berbaring. Intinya: dzikir dalam semua kondisi. Dengan senantiasa ingat kepada Allah SWT, maka hal ini akan menjadi kebiasaan kita. Fikiran alam bawah sadar kita akan terisi dengan ingatan kepada Allah SWT. Apa manfaatnya? Mari kita baca surat Ar Ra'du ayat 28 berikut ini:

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Hati yang sering berdzikir kepada Allah SWT, maka akan Allah isikan ketenangan di dalamnya. Allah jadikan ketenteraman di batinnya secara terus menerus. Tidak ada kegelisahan, waswas, takut, cemas, dan putus asa. Ini akan juga terpancar dari sorot mata dan air muka yang sedap dipandang. Jika hati tenteram, maka fikiran akan jernih. Hati yang tenang akan membuatnya mampu berfikir panjang. Ketika si pemilik hati yang cemerlang ini terkejut, maka secara otomatis terucaplah sesuatu yang senantiasa mengisi batinnya: asma Allah SWT, entah itu istighfar atau tasbih atau hamdalah dan lain-lain. Intinya adalah suatu ekspresi hamba yang hatinya selalu terpaut dengan Allah SWT. Mengingat asma Allah SWT telah menyatu dengan refleksnya. Mengingat asma Allah SWT telah mengalir di dalam setiap pembuluh darahnya. Tidak ada jeda waktu hidupnya yang hampa dari mengingat Allah SWT. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi senantiasa dihiasi dengan dzikrullah. Orang yang seperti ini adalah orang yang Allah sebut dalam surat Al Anfal ayat 2 sebagai berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Jadi, bagi kita seorang muslim, apa yang terucap ketika kaget bisa dijadikan cerminan seberapa dekat seseorang kepada Allah SWT. Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang seperti ayat di atas.

Tomy Saleh.Kalibata.28 Des 2009. 14:04WIB